BALI — Banjir bandang yang melanda kawasan perbatasan Nepal-China pada Rabu waktu setempat telah menewaskan lebih dari 150 orang, dengan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. Peristiwa ini terjadi di jalur populer menuju Gunung Kailash, area yang disucikan para peziarah Hindu, Buddha, Jain, dan Bonpo. Rekaman dramatis memperlihatkan arus deras menerjang permukiman warga dan menenggelamkan desa-desa di Nepal, sementara longsor lumpur turut melanda Pelabuhan Gyirong di sisi China.
Lebih dari 300 warga negara asing belum ditemukan, termasuk setidaknya 47 warga Amerika Serikat, seperti dilaporkan Associated Press. Otoritas setempat masih melakukan pencarian korban di tengah kondisi medan yang sulit dan akses yang terputus akibat bencana.
Awalnya, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan getaran berkekuatan magnitudo 4,4 di sepanjang perbatasan Nepal-China pada pukul 08.37 waktu setempat. Namun, tim ilmuwan internasional meyakini getaran tersebut bukan berasal dari aktivitas seismik, melainkan dari longsoran es dan batuan yang meluncur deras menuruni lereng gunung menuju Sungai Lhende Khola, anak sungai Bhote Koshi yang mengalir dari China ke Nepal.
USGS kemudian mengklarifikasi bahwa getaran itu setara dengan gempa magnitudo 5,2 dan disebabkan oleh tanah longsor dahsyat itu sendiri. Dengan kata lain, longsoran gletser yang memicu getaran, bukan sebaliknya. Diperlukan waktu berminggu-minggu untuk memastikan penyebab pastinya, namun dugaan kuat mengarah pada patahnya bongkahan besar gletser yang jatuh ke lembah di bawahnya.
Bencana ini kembali memicu kekhawatiran global terhadap rencana China membangun bendungan raksasa di pegunungan Himalaya. Brahma Chellaney, Professor Emeritus of Strategic Studies at the Centre for Policy Research, menegaskan bahwa Himalaya adalah rangkaian pegunungan paling aktif secara seismik di dunia dengan rekam jejak gempa menghancurkan.
"Bagaimana peristiwa seismik yang moderat pun dapat memicu efek beruntun yang masif tergambar hari ini ketika getaran bermagnitudo 4,4 di sepanjang perbatasan Tibet-Nepal memicu bencana, dengan banjir bandang menyapu bersih desa-desa di Nepal," tulisnya di X.
Chellaney menyebut proyek bendungan tersebut sebagai "bom air" yang menunggu waktu. Menurut penilaiannya, kegagalan struktur fatal atau insiden yang dipicu gempa dapat mengirimkan volume air luar biasa besar ke hilir, berpotensi menenggelamkan timur laut India dan mendatangkan kehancuran lebih jauh di Bangladesh.
Banjir bandang ini menyoroti kerentanan kawasan Himalaya yang menjadi sumber sungai bagi ratusan juta penduduk di Asia Selatan. Tim ilmuwan internasional kini tengah melakukan investigasi untuk memastikan apakah patahan gletser dipicu oleh faktor perubahan iklim atau aktivitas geologis lainnya.
Bagi warga di wilayah hilir, termasuk India dan Bangladesh, bencana ini menjadi pengingat akan risiko besar pembangunan infrastruktur di kawasan tektonik aktif. Pemerintah Nepal dan China masih fokus pada operasi pencarian korban serta evakuasi warga yang terdampak di kedua sisi perbatasan.