General Manager ASDP Ketapang Arief Eko Kurniansjah menegaskan bahwa setiap keputusan untuk menunda atau menghentikan sementara layanan penyeberangan diambil setelah melalui koordinasi ketat dengan KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Satpel Pelabuhan Penyeberangan BPTD Kelas II Jawa Timur, BMKG, dan Kepolisian. “Penundaan operasional dilakukan semata-mata sebagai langkah mitigasi risiko ketika kondisi cuaca belum memenuhi standar keselamatan pelayaran,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu.
Menurut Arief, penyesuaian operasional bersifat dinamis dan akan segera dicabut begitu kecepatan angin serta tinggi gelombang kembali berada dalam batas aman. Hal ini, katanya, untuk memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kepastian keberangkatan.
Untuk mengurangi dampak penundaan terhadap distribusi logistik, ASDP mengaktifkan buffer zone di kawasan Bulusan sebagai lokasi penampungan sementara kendaraan yang belum dapat menyeberang. Setelah cuaca membaik, perusahaan akan mengoptimalkan penambahan armada guna mempercepat penguraian antrean yang terbentuk selama masa penundaan.
Di sisi darat, koordinasi dengan Polres Banyuwangi terus diperkuat untuk mengatur arus kendaraan menuju pelabuhan. Tujuannya agar antrean tetap tertib dan tidak menimbulkan kepadatan berlebihan di sekitar akses masuk pelabuhan.
ASDP mengimbau seluruh pengguna jasa untuk memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG sebelum berangkat menuju pelabuhan. Pengguna jasa, khususnya kendaraan logistik dan masyarakat dengan agenda penting, diminta menyesuaikan waktu keberangkatan serta mengikuti arahan petugas di lapangan.
Manajemen juga memahami bahwa penundaan operasional dapat menimbulkan ketidaknyamanan, terutama bagi pelaku usaha logistik. Sebagai kompensasi, dalam kondisi force majeure akibat cuaca ekstrem, tiket yang telah dibeli tetap berlaku dan dapat digunakan kembali setelah layanan penyeberangan dibuka normal. “Kami memohon pengertian seluruh masyarakat. Kebijakan ini semata-mata untuk melindungi keselamatan jiwa,” ujar Arief.