Bupati Sutjidra secara tegas menyampaikan bahwa kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja adalah milik seluruh warga Buleleng, bukan milik dirinya maupun Wakil Bupati Gede Supriatna. "Mari kita jaga bersama agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat," ujarnya saat menghadiri puncak karya di pusat Kota Singaraja.
Upacara adat dan keagamaan yang digelar bertujuan memohon keselamatan, kerahayuan, serta keharmonisan secara sekala dan niskala. Prosesi yadnya dipuput oleh empat sulinggih, yakni Ida Pandita Mpu Nabe Ratangkara Bayu Segara Gni Ananda Wijaya Nata, Ida Sri Bhagawan Rama Sogata, Ida Rsi Bujangga Waisnawa Surya Adnyana, dan Ida Pandita Mpu Nabe Dwi Dharma Wijaya Nanda.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran Forkopimda Buleleng, Ketua DPRD Ketut Ngurah Arya, Sekretaris Daerah, Kepala Perangkat Daerah, tokoh agama, tokoh adat, serta puluhan masyarakat setempat. Kehadiran unsur pemerintahan dan tokoh adat menandakan kawasan ini memiliki nilai spiritual yang kuat bagi warga.
Menurut Sutjidra, kawasan ikonik di pusat kota ini diharapkan tidak hanya memiliki nilai spiritual tetapi juga berfungsi sebagai ruang publik yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Buleleng mengajak seluruh elemen warga untuk menjaga kebersihan, ketertiban, keamanan, dan kenyamanan kawasan sebagai ikon baru Buleleng.
Ia juga menekankan bahwa kawasan tersebut senantiasa metaksu atau memiliki energi spiritual positif setelah melalui rangkaian upacara.
Di sela-sela peresmian, Bupati Sutjidra mengungkapkan rencana pengembangan Pelabuhan Buleleng. Pelabuhan ini memiliki nilai sejarah penting karena pernah menjadi pintu masuk perdagangan sekaligus menopang peran Buleleng sebagai pusat pendidikan, pemerintahan, dan kebudayaan di Bali pada masa lalu.
"Pengembangan kawasan Pelabuhan Buleleng diharapkan dapat memperkuat identitas sejarah sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Kabupaten Buleleng," ujarnya. Rencana ini menjadi bagian dari upaya mengembalikan kejayaan Kota Singaraja yang dulu dikenal sebagai kota pelabuhan dan pusat peradaban di Bali Utara.