TABANAN — Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) resmi digelar serentak di kawasan Bali Nusra. Pembukaan dilakukan di Subak Jatiluwih, Tabanan, yang merupakan salah satu destinasi wisata dan pusat produksi pangan di Bali.
Asisten Gubernur Kepala Departemen Regional Bank Indonesia Rudy B. Hutabarat menjelaskan, ketiga lokasi tersebut merupakan pusat aktivitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan harian. Pemilihan lokasi mengacu pada prinsip 3T: tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran.
“Pelaksanaan OP berfokus pada prinsip 3T, tepat waktu, tepat lokasi dan tepat sasaran,” ujar Rudy dalam sambutannya.
Kebutuhan pangan yang disediakan dalam operasi pasar ini merupakan komoditas volatil yang rentan terhadap perubahan harga. Beberapa di antaranya adalah cabai merah, bawang, minyak goreng, beras, telur, dan komoditas pangan strategis lainnya.
Ketepatan waktu pelaksanaan dinilai krusial untuk mengendalikan inflasi saat momen tertentu, seperti Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), libur sekolah, dan peak season pariwisata. Sementara itu, tepat lokasi dijalankan di daerah dengan harga komoditas tinggi.
Rudy menambahkan, ketepatan sasaran diwujudkan dengan menyediakan berbagai komoditas penyumbang inflasi dan memastikan keterjangkauan harga bagi masyarakat berpenghasilan rendah. “Rapat Koordinasi TPIP ini menghasilkan kesepakatan gerakan pangan murah dalam rangka mewujudkan keterjangkauan harga,” katanya.
Penguatan sistem juga dilakukan melalui penyediaan kalender operasi pasar serta peningkatan kualitas data harga dan neraca pangan. Bank Indonesia bersama Pemerintah Pusat dan Daerah berkomitmen memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam mendukung ketahanan pangan dan pengendalian inflasi di kawasan Bali Nusra.