DENPASAR — Ny. Putri Koster menegaskan bahwa pemberdayaan UMKM dan IKM menjadi fokus utama Dekranasda Bali sejak periode pertamanya. Sinergi dengan Bank BPD Bali dan berbagai pihak terus dilakukan untuk membuka akses pasar sekaligus memberikan pendampingan bagi produk lokal Bali.
Program IKM Bali Bangkit yang digulirkan kembali pada periode kedua kepemimpinan Ny. Putri Koster menunjukkan hasil menggembirakan. Sejak dibuka pada Maret hingga saat ini, nilai transaksi yang tercatat telah mencapai kurang lebih Rp32 miliar.
“Ajang Pesta Kesenian Bali memberikan dampak yang sangat besar terhadap peningkatan penjualan produk UMKM. Kami menyediakan wadah secara gratis bagi para pelaku usaha selama mereka bersedia mengikuti aturan yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Selain menyediakan ruang pameran, Dekranasda Bali rutin menggelar peragaan busana setiap bulan sebagai media promosi wastra Bali. Ny. Putri Koster menyebut kegiatan itu menjadi upaya untuk terus memberikan ruang promosi kepada para desainer dan perajin lokal, terutama karena tahun ini Bali tidak mengikuti Kriya Nusa.
“Kami menghadirkan Fashion Week agar para desainer dan perajin tetap memiliki panggung untuk memperkenalkan karya-karyanya,” jelasnya.
Dalam Dekranasda Bali Fashion Day kali ini, empat perangkat daerah ikut tampil memperagakan busana berbahan wastra Bali, yakni Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali, RS Mata Bali Mandara, serta KPID Bali.
Ny. Putri Koster mengajak seluruh kepala perangkat daerah tidak hanya mendukung UMKM secara simbolis, tetapi juga membeli dan mengenakan produk yang dipasarkan di IKM Bali Bangkit. “Kalau kita ingin UMKM maju, mari kita mulai dengan membeli dan memakai produknya,” katanya.
Ny. Putri Koster mengingatkan pentingnya menjaga keberlangsungan kain tenun tradisional Bali yang saat ini menghadapi tantangan, termasuk maraknya peniruan motif. Ia mengungkapkan bahwa kain endek Bali telah memperoleh pengakuan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK), sementara kain gringsing Tenganan telah memiliki Indikasi Geografis (IG).
“Kalau kita benar-benar mencintai kain tenun Bali, maka kita juga harus tahu bagaimana menjaga kelestariannya. Perlindungan terhadap wastra tradisional adalah bentuk penghormatan kepada para perajin sekaligus investasi bagi masa depan budaya Bali,” pungkasnya.
Dekranasda Bali Fashion Day merupakan bagian dari rangkaian program Trilogi Dekranasda, yang juga mencakup Fashion Week dan Road Show. Program ini dirancang sebagai upaya berkelanjutan untuk memperkuat ekosistem industri kreatif berbasis wastra Bali.
Ny. Putri Koster berharap para desainer Bali mampu menjadi pencipta tren dengan menghadirkan busana modern tanpa meninggalkan identitas budaya Bali. “Desainer harus menjadi trendsetter, sehingga masyarakat Bali tampil modis tetapi tetap berakar pada budaya sendiri,” tegasnya.