Dibandingkan pendahulunya, Surface Laptop 7 yang rilis 2024 seharga $999 (sekitar Rp16 juta), generasi baru ini melonjak hingga $600 atau sekitar Rp9,6 juta lebih mahal. Kenaikan harga ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Microsoft menaikkan harga jajaran Surface pada April lalu.
Kedua perangkat ditenagai chip Snapdragon X2 anyar. Microsoft mengklaim performa grafis Surface Pro terbaru 53 persen lebih cepat dari generasi sebelumnya, sementara Surface Laptop mencatat peningkatan 58 persen. Baterai diklaim tahan seharian penuh, dan touchpad pada Laptop kini menggunakan teknologi haptic.
Seperti tren perangkat premium saat ini, Surface baru juga dibekali NPU khusus untuk tugas AI on-device. Namun Microsoft belum menghadirkan aplikasi yang benar-benar memanfaatkan chip tersebut secara maksimal — fitur AI masih sekadar pelengkap, bukan alasan utama orang membeli laptop baru.
Microsoft juga menyertakan bonus untuk meredam kejut harga: keyboard gratis untuk pembeli Surface Pro, dan Surface Arc Mouse gratis untuk pembeli Laptop. Program trade-in juga ditawarkan hingga diskon $900.
Microsoft mengklaim perangkat ini "dirancang dengan keberlanjutan dan kemudahan perbaikan." Seluruh bodi menggunakan aluminium 100 persen daur ulang, dan perusahaan menyediakan Surface Repair Tool — panduan interaktif untuk mengganti baterai atau layar sendiri. Namun, harga tinggi tetap menjadi penghalang utama bagi konsumen yang sadar anggaran.
Masalah Microsoft bukan hanya soal biaya komponen. Di pasar laptop entry-level hingga menengah, persaingan semakin sengit. Apple baru saja meluncurkan MacBook Neo seharga $599 (sekitar Rp9,6 juta) — meski speknya jauh di bawah Surface Laptop terbaru, perangkat itu sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan komputasi harian kebanyakan orang.
Dell juga tidak tinggal diam. XPS 13 generasi terbaru dibanderol hanya $699 (sekitar Rp11,2 juta), menawarkan pengalaman premium dengan harga setengah dari Surface Laptop anyar. Di tengah tekanan biaya hidup global, selisih harga segitu membuat konsumen berpikir ulang.
Laporan keuangan terakhir Microsoft menunjukkan pendapatan dari segmen Windows OEM dan Devices turun 2 persen. Dengan harga baru yang semakin mahal, sulit membayangkan Surface generasi ini bisa membalikkan tren tersebut. Konsumen kini dihadapkan pada pilihan: membayar mahal untuk perangkat premium, atau beralih ke alternatif yang lebih terjangkau namun tetap mumpuni.