Fenomena ini pertama kali mencuat setelah warga melaporkan menerima denda dari kamera lalu lintas otomatis—seperti kamera lampu merah atau batas kecepatan—untuk mobil yang sama sekali berbeda dengan milik mereka. Pelat nomor Colorado, yang didesain ulang beberapa waktu lalu, ternyata memiliki font dan tata letak yang membingungkan sistem pengenalan karakter optik (OCR) milik kamera tilang.
Pelat nomor Colorado versi terbaru menggunakan desain dengan gunung di latar belakang dan font yang lebih dekoratif. Masalahnya, huruf-huruf tertentu—seperti 'O' dan 'Q', atau '1' dan 'I'—sulit dibedakan oleh perangkat lunak kamera.
Akibatnya, kamera sering salah membaca nomor pelat. Alih-alih menilang kendaraan yang melanggar, sistem justru mengirimkan tagihan ke pemilik mobil lain yang nomor pelatnya mirip secara visual.
Laporan dari otoritas setempat menyebutkan jumlah kesalahan pembacaan ini mencapai ribuan kasus dalam beberapa bulan terakhir. Warga yang tidak pernah melintas di lokasi tertentu mendadak menerima surat tilang lengkap dengan foto kendaraan yang berbeda.
Protes pun bermunculan. Banyak yang mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengajukan banding, membuktikan bahwa mobil mereka tidak berada di tempat dan waktu yang tertera di surat tilang.
Menanggapi kekacauan ini, sejumlah kota di Colorado mulai menangguhkan sementara penggunaan kamera tilang otomatis. Pemerintah negara bagian juga tengah mengevaluasi desain pelat nomor dan berkoordinasi dengan vendor kamera untuk memperbarui perangkat lunak pengenal karakter.
Belum ada kepastian kapan masalah ini akan tuntas. Namun, kasus ini menjadi pengingat bahwa teknologi otomatis sekalipun bisa gagal total jika data inputnya—dalam hal ini desain pelat nomor—tidak dirancang dengan mempertimbangkan keterbatasan sistem pembacaan mesin.