Kurs Rupiah Kembali Melemah ke Dekat Rp 18.000 per Dolar AS, Penguatan Hanya Bertahan Dua Hari

Penulis: Bayu Nugroho  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17:01 WIB
Rupiah melemah mendekati Rp 18.000 per dolar AS setelah penguatan dua hari.

JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah kembali terasa setelah libur panjang. Pada perdagangan hari ini, kurs rupiah tercatat melemah dan mendekati angka Rp 18.000 per dolar AS, menghapus penguatan yang sempat terjadi selama dua hari sebelumnya.

Data dari Pusat Data Kontan menunjukkan bahwa penguatan rupiah sebelumnya hanya bertahan dalam waktu singkat. Kondisi ini mencerminkan masih kuatnya tekanan eksternal, terutama dari kebijakan suku bunga acuan di AS yang tetap tinggi.

Sentimen Global Masih Menekan Rupiah

Pelaku pasar masih mencermati data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama menjadi faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, pasar juga menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan kurs. Intervensi ganda melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar valas dinilai belum cukup untuk membalikkan arah pelemahan dalam jangka pendek.

Level Psikologis Rp 18.000 Kembali Diuji

Level Rp 18.000 per dolar AS menjadi batas psikologis yang krusial bagi pasar. Sepanjang tahun ini, rupiah beberapa kali mendekati level tersebut sebelum akhirnya kembali menguat tipis. Namun, kali ini tekanan terlihat lebih persisten.

Analis menilai bahwa tanpa adanya katalis positif dari dalam negeri, seperti data pertumbuhan ekonomi yang solid atau arus modal asing yang deras masuk, rupiah akan sulit keluar dari tekanan. Pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap fluktuasi jangka pendek.

Dampak ke Harga Barang Impor dan Utang

Pelemahan rupiah yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga barang-barang impor, terutama bahan baku industri dan produk elektronik. Di sisi lain, beban pembayaran utang pemerintah dan swasta yang dalam denominasi dolar AS juga ikut membengkak.

Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah-langkah stabilisasi dan pengelolaan permintaan valas menjadi kunci dalam menghadapi dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

Reporter: Bayu Nugroho
Sumber: pusatdata.kontan.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top