DENPASAR — Penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat harga minyak mentah dunia bertahan di level tinggi. Berdasarkan data pasar, minyak Brent tercatat di kisaran USD 92,40 per barel, sementara Crude Oil (WTI) diperdagangkan di sekitar USD 89,45 per barel. Dalam setahun terakhir, harga kedua jenis minyak ini masih mencatat kenaikan lebih dari 30 persen, meski dalam sebulan terakhir mengalami penurunan.
Pasar energi, menurut analis, masih memasukkan faktor risiko geopolitik ke dalam perhitungan harga. Semakin lama gangguan pasokan berlangsung, semakin besar potensi tekanan terhadap harga energi global. Kondisi ini membuat pelaku pasar tidak hanya memantau data pasokan, tetapi juga setiap perkembangan politik di Timur Tengah.
Mengapa Investor Bitcoin Ikut Memantau Selat Hormuz?
Hubungan antara harga minyak dan Bitcoin memang tidak bersifat langsung. Namun, keduanya kerap dipengaruhi faktor makro yang sama, terutama inflasi dan likuiditas global. Ketika harga energi naik, biaya produksi dan distribusi barang ikut meningkat. Jika kondisi itu mendorong inflasi lebih tinggi, bank sentral bisa mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Situasi seperti ini umumnya kurang menguntungkan bagi aset berisiko, termasuk pasar kripto. Karena itu, setiap perkembangan di Timur Tengah kini tidak hanya dipantau pelaku pasar energi, tetapi juga investor Bitcoin. Mereka melihat Selat Hormuz sebagai salah satu indikator risiko yang bisa memengaruhi arah kebijakan suku bunga global.
Posisi Bitcoin Masih di Area Kritis
Di tengah ketidakpastian geopolitik, harga Bitcoin masih bergerak di kisaran USD 62.800 berdasarkan data TradingView. Secara teknikal, aset kripto ini masih bertahan di area support yang menjadi perhatian pasar dalam beberapa bulan terakhir. Namun, sentimen makro seperti harga minyak, inflasi, dan arah kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor penentu pergerakan selanjutnya.
Perhatian investor saat ini tidak hanya tertuju pada grafik Bitcoin, tetapi juga pada perkembangan konflik Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi global. Jika kenaikan harga energi memicu inflasi dan memperketat likuiditas, tekanan terhadap aset berisiko dapat kembali meningkat.
Yang Perlu Diketahui soal Dampak Penutupan Selat Hormuz
- Pengaruh ke harga energi: Gangguan di Selat Hormuz bisa memengaruhi 20-25 persen pasokan minyak dan LNG global. Harga minyak Brent yang masih di atas USD 90 per barel menunjukkan pasar masih memasukkan premi risiko.
- Dampak ke inflasi global: Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, yang bisa membuat bank sentral seperti The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
- Efek ke aset kripto: Bitcoin dan aset berisiko lainnya cenderung tertekan dalam lingkungan suku bunga tinggi dan likuiditas ketat. Namun, dampaknya tidak langsung dan bergantung pada durasi konflik.