Ribuan pengembang dan jurnalis game global baru saja melewati masa sibuk pasca-Summer Game Fest pekan lalu. Tradisi embargo yang sengaja diatur agar jatuh bersamaan—tahun ini pada 10 Juni—memungkinkan para penulis untuk menyajikan liputan mendalam tanpa terburu-buru. Hasilnya, 18 game dengan beragam genre dan skala bisa langsung dibahas, mulai dari yang masih kasar hingga yang nyaris sempurna.
Salah satu momen yang paling dinantikan adalah kembalinya Spyro dalam Spyro: A Realm Beyond garapan Toys for Bob. Studio ini, yang baru saja memerdekakan diri dari Activision, menegaskan bahwa mereka kini bisa fokus membuat game yang mereka inginkan—bukan lagi menjadi tim pendukung Call of Duty. Sistem terbang baru di game ini memungkinkan Spyro melayang tanpa batas dengan menciptakan sumber api di tanah.
Di sisi lain, Fable dari Playground Games justru menyita perhatian bukan karena pertarungannya, melainkan sistem simulasi sosialnya. Dalam demo 30 menit, pengembang menunjukkan bagaimana pemain bisa berteman dengan tunawisma, jatuh cinta, membeli rumah, hingga—secara ekstrem—mengusir seluruh penduduk kota. Namun, beberapa jurnalis mencatat interaksi sosialnya masih terasa mekanis, lebih banyak menu dan daftar tugas ketimbang percakapan organik.
Jika ada satu game yang membuat semua orang di ruang demo terkesima, itu adalah Onimusha: Way of the Sword. Capcom menghadirkan pertarungan pedang yang disebut-sebut sebagai yang terbaik dalam sejarah game, memadukan elemen Sekiro dan Ghost of Tsushima dengan sistem "sword clash" yang membuat setiap tebasan terasa berbobot. Satu-satunya keluhan: sebagian besar demo terlalu mudah—sampai pemain bertemu bos berkepala banyak yang bisa menghancurkan pemain dengan satu rumah.
Puncak daftar justru ditempati oleh game yang mungkin tak banyak dikenal: N+ Infinity Times Two. Sekuel platformer multipemain dari Metanet ini disebut sebagai "game yang sempurna" oleh jurnalis yang mencobanya. Mode Tag dianggap sebagai terobosan, sementara balapan menjadi ajang adu refleks yang adiktif. Game ini membuktikan bahwa kesederhanaan bisa menjadi senjata paling ampuh.
Tak semua game mendapat sambutan hangat. Nekome: Nazi Hunter, game stealth aksi tentang seorang pria Romani yang memburu Nazi, harus puas di posisi buncit karena animasi pertarungan yang kaku dan lambat. Minecraft Dungeons 2 juga dianggap membosankan karena demo multipemain hanya berisi mengikuti garis emas sambil memencet tombol serang.
Namun, ada juga kejutan menyenangkan. Stupid Never Dies dari eks-produser Capcom—di balik Devil May Cry dan Dragon's Dogma—menghadirkan aksi konyol dengan protagonis zombie bernama Davy yang bisa menyerap kekuatan musuh dengan menggigit mereka. Sementara Blood Message, game aksi berlatar Dinasti Tang akhir, berhasil memadukan elemen God of War yang sinematis dengan pertarungan yang sederhana namun efektif.
Satu game misterius masih belum bisa diungkap karena embargonya belum sepenuhnya berakhir. Namun, dari 17 game yang sudah bisa dinilai, industri game sepertinya akan kembali dimanjakan oleh sekuel-sekuel berkualitas pada 2026 dan 2027.