BALI — Kepala BPBD Sulawesi Utara, Adolf H Tamengkel, mengatakan kerusakan infrastruktur tersebar di dua kabupaten, yakni Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud. Data sementara yang dihimpun hingga pukul 12.47 WITA menunjukkan total kerusakan di Sulawesi Utara mencapai 27 rumah, dua gereja, satu sekolah, dan satu rumah dinas guru.
Kabupaten Kepulauan Sangihe menjadi wilayah dengan dampak kerusakan terbanyak. Kampung Kawio di Kecamatan Marore tercatat sebagai wilayah terdampak paling parah dengan 11 rumah dan satu gedung gereja rusak.
"Di Kampung Matutuang, satu rumah dinas guru, satu sekolah, satu gereja, dan satu rumah warga dilaporkan rusak," kata Adolf dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (8/6). Kerusakan juga melanda Kampung Marore (2 rumah), Kampung Dira (1 rumah), Kampung Batu Wingkung (1 rumah), Kampung Tambung (1 rumah), Kelurahan Santiago (1 rumah), dan Kelurahan Kolongan Beha (2 rumah).
Di Kabupaten Kepulauan Talaud, sebanyak tujuh rumah di Kecamatan Rainis dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. "Secara keseluruhan, jumlah kerusakan infrastruktur yang terdata sementara di Sulawesi Utara mencapai 27 unit rumah warga, dua gedung gereja, satu sekolah, dan satu rumah dinas guru," ungkapnya.
Gempa yang berpusat di laut, sekitar 236 kilometer barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, ini juga sempat memicu peringatan dini tsunami. Hasil pemantauan menunjukkan gelombang tsunami terdeteksi di sejumlah titik dengan ketinggian bervariasi. Di Talengen tercatat setinggi 0,75 meter, Melonguane 0,32 meter, Tahuna 0,30 meter, Bitung 0,29 meter, dan Ulu Siau 0,18 meter.
Hingga siang hari, BPBD bersama pemerintah kabupaten dan kota terus melakukan pendataan korban dan kerusakan infrastruktur di wilayah terdampak. "Hingga siang hari, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan," kata Adolf.