BADUNG — Ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat turun ke pesisir Hutan Mangrove Benoa, Kamis (15/1), untuk memungut sampah yang tersangkut di akar-akar mangrove dan terbawa arus ke kawasan konservasi tersebut. Aksi ini menjadi puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 yang digagas oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung.
Kawasan mangrove di Teluk Benoa selama ini menjadi benteng alami yang melindungi pesisir selatan Bali dari abrasi. Namun, tumpukan sampah—khususnya plastik—yang mengendap di sela-sela akar mangrove dinilai mengancam fungsi ekologis kawasan tersebut.
"Kami tidak hanya membersihkan, tapi juga mengedukasi warga pesisir agar tidak membuang sampah ke laut," ujar Kepala DLHK Badung, I Made Badra, di sela kegiatan.
Aksi bersih serentak ini merupakan wujud implementasi Gerakan Indonesia ASRI yang dicanangkan pemerintah pusat. Program tersebut mendorong tiga hal utama: pemilahan sampah dari sumber, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Menurut Made Badra, Pemkab Badung menargetkan setiap rumah tangga di kawasan pesisir Benoa mulai memilah sampah organik dan anorganik secara mandiri pada tahun ini. "Sampah yang sudah dipilah akan diangkut ke TPS 3R di kawasan Jimbaran untuk diolah lebih lanjut," imbuhnya.
Data DLHK Badung mencatat, volume sampah yang berhasil dikumpulkan dari pesisir pantai di wilayah selatan Bali mencapai rata-rata 120 ton per bulan. Sebagian besar merupakan sampah plastik dan styrofoam yang sulit terurai.
Dalam aksi kali ini, petugas gabungan dari DLHK, komunitas pecinta lingkungan, dan warga setempat berhasil mengumpulkan sekitar 3,5 ton sampah hanya dalam waktu tiga jam. Sampah tersebut langsung dikirim ke tempat pengolahan akhir untuk dipilah dan didaur ulang.
Tak hanya aksi bersih massal, kegiatan ini juga diisi dengan sosialisasi kepada nelayan dan pemilik warung makan di kawasan pesisir. Mereka diedukasi untuk tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai dan beralih ke bahan ramah lingkungan seperti daun atau anyaman bambu.
"Kami sudah mulai mengganti kantong plastik dengan besek anyaman bambu untuk wadah jajanan. Lebih hemat dan tidak mencemari pantai," kata Wayan Suardana, pemilik warung di kawasan Tanjung Benoa.
Pemkab Badung berencana memperluas program serupa ke seluruh desa pesisir di kecamatan Kuta Selatan dan Kuta Utara pada semester kedua tahun ini. Setiap desa akan didorong membentuk bank sampah unit dan menyediakan tempat sampah terpilah di titik-titik strategis.
Made Badra menambahkan, pihaknya juga akan menggandeng perguruan tinggi di Bali untuk melakukan riset terkait efektivitas pengelolaan sampah berbasis komunitas di kawasan mangrove. "Langkah ini penting agar kebijakan yang kami ambil tepat sasaran dan berkelanjutan," pungkasnya.