DENPASAR — Lebih dari 60 UMKM dari Bali dan Nusa Tenggara akan memamerkan produk di ajang Bali Jagadhita VII-2026 yang berlangsung di sebuah pusat perbelanjaan di Kuta, Kabupaten Badung. Pameran ini mencakup sektor makanan dan minuman, kriya, fesyen, hingga gerai edukasi pengolahan sampah.
Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani menyebut Bali memiliki potensi besar untuk terus tumbuh, terutama melalui kekuatan pariwisata yang mampu menggerakkan sektor lain.
“Bali memiliki potensi besar untuk terus tumbuh, terutama melalui kekuatan pariwisata yang mampu menggerakkan sektor lain, seperti pertanian, industri, UMKM, dan ekonomi kreatif,” kata Achris di Denpasar, Sabtu.
Salah satu daya tarik utama dalam gelaran tahunan ini adalah peragaan busana berbahan ramah lingkungan yang digarap pelaku UMKM bersinergi dengan Dekranasda Bali. Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa ekonomi hijau bisa diintegrasikan ke dalam industri fesyen lokal.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM Riza Adha Damanik menilai ekonomi hijau relevan dengan tren konsumen global saat ini. Menurut dia, konsumen semakin selektif dan mempertimbangkan aspek lingkungan, kesehatan, serta keadilan dalam proses produksi.
“Bali Jagadhita dapat terus menjadi wadah pengembangan UMKM hijau sekaligus mendorong lahirnya wirausaha baru yang produktif dan berdaya saing,” ujar Riza.
Selain pameran, BI Bali juga menggelar pasar murah bahan pangan melalui kolaborasi dengan BUMD pangan daerah. Langkah ini bertujuan mendukung stabilisasi harga dan menekan inflasi di tengah tekanan harga komoditas.
Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Bali Luh Ayu Aryani menambahkan bahwa ajang ini menegaskan posisi UMKM tidak hanya sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai penjaga budaya Bali. Menurutnya, produk-produk lokal yang ramah lingkungan menjadi cerminan identitas budaya yang berkelanjutan.
Melalui Bali Jagadhita VII-2026, BI Bali ingin mendorong UMKM naik kelas dari sekadar pelaku pasar domestik menjadi eksportir. Penguatan ekonomi hijau menjadi strategi utama untuk menyikapi dinamika global yang menuntut produk berkelanjutan.
Achris Sarwani menekankan bahwa ajang ini bukan sekadar pameran tahunan, melainkan bagian dari upaya sistematis memperkuat ekosistem UMKM di Bali dan Nusa Tenggara. Dengan menggandeng lebih dari 60 pelaku usaha, diharapkan lahir wirausaha baru yang produktif dan berdaya saing di pasar internasional.