BALI — Piala Dunia 2022 di Qatar terasa seperti akhir yang sempurna. Messi mengangkat trofi, mengenakan jubah bisht, dan seolah siap menutup buku karier internasionalnya. Empat tahun kemudian, Argentina bersiap menghadapi Piala Dunia lain dengan pemain yang sama. Messi mengkhianati narasi dramatis yang sudah ditulis untuknya.
Selama bertahun-tahun, Messi hidup di bayang-bayang Diego Maradona. Ejekan paling pedas selalu sama: ia tidak pernah melakukan apa yang Maradona lakukan—memenangkan Piala Dunia untuk Argentina. Kini, setelah Qatar, Messi berpotensi membalikkan narasi itu.
"Apakah ada masa depan di mana orang Argentina berkumpul di sekitar panggangan asado dan mengakui bahwa, sehebat Diego, ia hanya memenangkan Piala Dunia sekali?" tulis analis dalam artikel yang dikutip. Messi, jika juara lagi, akan memiliki dua gelar—sesuatu yang tak pernah diraih Maradona.
Messi akan menjadi pemain Argentina tertua yang tampil di Piala Dunia saat turnamen digelar pertengahan 2026. Di Qatar, ia sudah tampak tua. Ia sering melayang di pinggir lapangan, muncul sesaat untuk momen jenius, lalu menghilang lagi. Rodrigo De Paul menjadi kakinya—sampai-sampai Inter Miami merekrutnya untuk tugas yang sama di MLS.
Namun ada argumen yang menenangkan: begitu diterima bahwa seorang pemain tidak bisa berlari, penurunan kapasitas fisik yang bertahap tidak terlalu berarti. Berkeliaran di bayang-bayang, ia justru menjadi ancaman; ia tidak mengganggu mekanisme tim di peran sentral.
Sebelum Piala Dunia 2022, Messi bermain 13 kali di Ligue 1 dan lima kali di Liga Champions. Musim ini, ia baru memainkan 14 pertandingan MLS dan dua laga Concacaf Champions League. Secara jumlah, setara. Tapi level kompetisi MLS masih jauh di bawah divisi teratas Prancis sekalipun.
Untungnya, Messi tetap produktif untuk Argentina. Di Copa América terakhir yang dimenangkan Argentina, serta kualifikasi dan laga uji coba setelahnya, performanya konsisten. Ia masih menjadi andalan utama timnas.
Ada ironi dalam kisah ini. Qatar 2022 terasa seperti lingkaran yang tertutup: Argentina pertama kali memenangkan Piala Dunia U-20 di Qatar pada 1995. Lionel Scaloni, manajer saat ini, adalah bagian dari tim itu. Messi sendiri bermain di edisi 2007. Kini, lingkaran itu mungkin terbuka lagi untuk babak baru.
Jika Messi termotivasi oleh tuntutan narasi, ia seharusnya sudah pensiun setelah Qatar. Tapi atlet elit memiliki keyakinan diri yang irasional dan kuat. Mungkin ia benar-benar percaya bisa menginspirasi Argentina meraih kejayaan sekali lagi. Pertanyaannya: seberapa besar kemungkinan itu terjadi? Tidak ada yang tahu pasti.