TABANAN — Disdik Tabanan memasang radar waspada terhadap sekolah-sekolah yang terancam kekurangan siswa baru. Salah satu yang menjadi perhatian adalah SMPN 5 Pupuan, sebuah sekolah menengah pertama di kawasan perdesaan.
Pemetaan ini digencarkan menjelang tahun ajaran baru. Tujuannya, mendeteksi lebih dini sekolah mana saja yang berpotensi mengalami penurunan drastis jumlah pendaftar.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Disdik mencatat ada beberapa faktor yang membuat sekolah di pelosok seperti SMPN 5 Pupuan sepi peminat.
Mulai dari berkurangnya jumlah anak usia sekolah di wilayah tersebut hingga persaingan dengan sekolah swasta atau madrasah di sekitar. Mobilitas orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya ke kota juga ikut mempengaruhi.
Disdik tidak tinggal diam. Setelah pemetaan selesai, mereka akan menyusun strategi intervensi. Langkah ini krusial agar sekolah negeri di desa tetap bertahan dan tidak mati suri.
“Kami petakan satu per satu sekolah yang rawan. Nanti akan kami lihat apa yang bisa dilakukan, apakah lewat sosialisasi atau program afirmasi,” demikian pernyataan dari pihak Disdik Tabanan.
Jika sekolah negeri di desa mati suri, akses pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu akan terhambat. Mereka harus menempuh jarak lebih jauh atau beralih ke sekolah swasta yang biayanya lebih mahal.
Disdik berharap pemetaan ini bisa menjadi dasar kebijakan yang tepat. Sehingga, sekolah seperti SMPN 5 Pupuan tetap menjadi pilihan utama bagi warga sekitar.