KARANGASEM — Suasana Taman Kota Jagatkarana berubah menjadi panggung raksasa pada Sabtu malam. Ribuan pasang mata tertuju pada panggung KAP (Karangasem Akhir Pekan) yang menjadi saksi peluncuran "Mentari Timur Menari". Program ini bukan sekadar hiburan, melainkan strategi membangkitkan kembali semangat gotong royong warga yang sempat redup pascabencana.
Gus Ode, sapaan akrab Wakil Bupati Karangasem, hadir langsung untuk membakar semangat warga. Di hadapan ratusan pengunjung, ia menekankan bahwa "Mentari Timur Menari" adalah gerakan kolektif. "Gotong royong adalah identitas kita. Lewat seni dan kebersamaan, kita bangkitkan kembali Gumi Lahar," ujarnya di atas panggung.
Karangasem, yang dikenal sebagai Gumi Lahar, memiliki sejarah panjang bencana vulkanik. Letusan Gunung Agung beberapa tahun lalu meninggalkan luka sosial dan ekonomi. Program ini dirancang untuk memperkuat kembali kohesi sosial warga yang sempat terpecah akibat trauma dan relokasi. Panggung KAP menjadi titik awal untuk merajut kembali kebersamaan.
Antusiasme warga terlihat sejak sore hari. Mereka datang dari berbagai desa di sekitar Kota Amlapura. Panggung terbuka di Taman Kota Jagatkarana menjadi pusat interaksi. Anak-anak, remaja, hingga orang tua duduk lesehan menikmati alunan musik dan tarian tradisional. "Ini yang kami rindukan, suasana guyub seperti dulu," kata Made Suardana, warga Kelurahan Karangasem.
Ke depan, program ini direncanakan bergulir secara rutin di berbagai desa. Bukan hanya panggung seni, tetapi juga pasar rakyat dan diskusi warga. "Kami ingin KAP jadi milik semua, bukan hanya pemerintah," tegas Gus Ode menutup sambutannya.