DENPASAR — Angka gigitan hewan penular rabies di Bali masih memprihatinkan. Berdasarkan data Dinkes Provinsi Bali hingga 22 Mei 2026, tercatat 28.980 kasus dengan rata-rata 207 kasus per hari. Dari total tersebut, sebanyak 21.808 korban telah mendapatkan vaksin anti rabies (VAR), sementara tiga kasus berujung kematian.
Kabupaten Badung menjadi daerah dengan jumlah kasus gigitan tertinggi, mencapai 5.441 kasus atau rata-rata 39 kasus per hari. Namun, angka warga yang menerima VAR di sana baru 441 orang, jauh dari total kasus yang terjadi.
Di posisi kedua, Karangasem mencatat 3.800 kasus gigitan dengan rata-rata 27 kasus per hari. Sebanyak 3.081 korban telah menerima VAR dan satu kasus kematian dilaporkan di wilayah tersebut. Sementara Kota Denpasar mencatat 3.459 kasus dengan rata-rata 25 kasus per hari, dan 3.123 korban sudah mendapatkan vaksin.
Kabupaten Buleleng mencatat 3.489 kasus gigitan dengan rata-rata 25 kasus per hari. Sebanyak 2.636 korban memperoleh VAR, namun satu kasus kematian tetap terjadi. Gianyar mencatat 3.299 kasus gigitan dengan rata-rata 24 kasus per hari, dengan 1.925 korban menerima VAR dan satu kasus kematian pada 2026.
Kabupaten Tabanan mencatat 3.158 kasus gigitan dengan rata-rata 23 kasus per hari, sebanyak 2.327 korban menerima VAR. Jembrana mencatat 2.797 kasus dengan rata-rata 20 kasus per hari, dan 2.278 orang menerima vaksin. Klungkung mencatat 2.062 kasus dengan rata-rata 15 kasus per hari, sebanyak 1.470 korban mendapatkan vaksin. Bangli menjadi daerah dengan kasus terendah, yakni 1.477 kasus dengan rata-rata 11 kasus per hari dan 1.027 korban menerima VAR.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan berbagai langkah terus dilakukan untuk menekan kasus. Penanganan dimulai dari penyelidikan epidemiologi saat ditemukan kasus positif rabies pada hewan hingga memastikan seluruh korban gigitan mendapat tatalaksana sesuai standar.
"Kami juga meningkatkan kewaspadaan dini melalui pendekatan surveilans yang terintegrasi antara kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan," ujarnya, Jumat (29/5).
Dinkes Bali juga menggencarkan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) secara berjenjang di masing-masing wilayah. Upaya lainnya melalui peningkatan peran masyarakat hingga tingkat desa dengan pembentukan Tim Siaga Rabies (TISIRA). Pemerintah juga memastikan ketersediaan logistik VAR dan serum anti rabies (SAR) secara berkelanjutan.
Raka Susanti menambahkan, akses pelayanan kesehatan diperluas melalui penambahan rabies center. Saat ini terdapat sekitar 120 puskesmas dan rumah sakit di Bali yang ditunjuk sebagai pusat pelayanan pemberian VAR. Pengendalian rabies juga dilakukan melalui penguatan kerja sama dengan LSM, organisasi profesi, hingga perguruan tinggi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, mengatakan total pengadaan vaksin rabies tahun ini diperkirakan mencapai 700 ribu dosis. Targetnya, kekebalan populasi hewan penular rabies bisa mencapai 85 persen.