TABANAN — Sepinya lalu lintas wisatawan di kawasan persawahan terasering Warisan Budaya Dunia itu mulai terasa sejak awal tahun. Pengelola DTW Jatiluwih mengakui bahwa tekanan eksternal, mulai dari konflik geopolitik hingga biaya transportasi udara yang tinggi, menjadi faktor utama penurunan angka kunjungan.
Ketegangan global membuat calon wisatawan, khususnya dari Eropa dan Amerika Serikat, menunda perjalanan jarak jauh. Pengelola DTW Jatiluwih menyebutkan bahwa situasi ini diperparah oleh harga tiket pesawat yang belum kembali ke level pra-pandemi.
“Biaya penerbangan masih tinggi, ditambah ketidakpastian situasi dunia, membuat orang berpikir ulang untuk bepergian,” ujar salah satu pengelola kepada wartawan, pekan lalu.
Sepinya kunjungan langsung berimbas pada pendapatan para pemandu wisata lokal dan pedagang di sekitar kawasan Jatiluwih. Sebagian besar dari mereka menggantungkan hidup pada kedatangan rombongan wisatawan yang biasanya memadati area parkir dan warung makan setiap akhir pekan.
Hingga pertengahan tahun 2026, angka kunjungan belum menunjukkan grafik kenaikan yang berarti. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, Jatiluwih sempat mencatat lonjakan pengunjung saat musim liburan.
Meski jumlah tamu menurun, pengelola tetap merawat jalur trekking dan area persawahan agar tetap prima. Mereka berharap, begitu situasi global membaik dan harga tiket turun, wisatawan akan kembali berdatangan ke salah satu objek unggulan di Tabanan ini.
Pemerintah Kabupaten Tabanan sendiri belum mengumumkan langkah insentif khusus untuk menopang sektor pariwisata di Jatiluwih. Namun, pengelola optimistis bahwa daya tarik pemandangan alam yang diakui UNESCO masih menjadi modal utama untuk bangkit kembali.