NEGARA — Tinggal enam unit dokar atau delman tradisional yang masih beroperasi di Kabupaten Jembrana, Bali. Para kusirnya sudah berusia lanjut dan hanya bisa duduk bersila di trotoar, menanti pelanggan yang sudi naik ke atas pedatinya di tengah derasnya lalu lintas kendaraan bermotor.
Keberadaan dokar di Jembrana kian tergerus zaman. Kendaraan beroda dua yang ditarik kuda ini dulu menjadi andalan warga untuk bertransportasi, namun kini nyaris punah.
Seorang kusir tampak duduk di sudut trotoar, tatapannya kosong menembus hiruk-pikuk kendaraan. Ia hanya bisa berharap ada keajaiban penumpang yang sudi menyapa jasanya.
Para kusir yang tersisa rata-rata sudah berusia renta. Mereka mengaku pendapatan sehari-hari tidak menentu, bahkan sering kali pulang dengan kantong kosong.
Perubahan moda transportasi menjadi faktor utama. Masyarakat kini lebih memilih sepeda motor, mobil, atau ojek online yang dianggap lebih cepat dan praktis.
Selain itu, perawatan kuda dan pedati membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Para kusir harus mengeluarkan uang untuk pakan kuda serta perbaikan gerobak, sementara pemasukan terus menurun.
Mereka tidak memiliki pilihan lain. Sebagian besar kusir sudah terlalu tua untuk beralih profesi, sementara dokar adalah satu-satunya keahlian yang mereka miliki.
“Kami hanya bisa pasrah. Kalau ada yang naik, syukur. Kalau tidak ya sudah,” ujar salah seorang kusir, menggambarkan situasi yang kian sulit.
Keberadaan dokar di Jembrana kini lebih sebagai saksi bisu perubahan zaman. Tanpa intervensi pelestarian dari pemerintah daerah, moda transportasi tradisional ini diprediksi akan benar-benar lenyap dalam beberapa tahun ke depan.