BALI — Di tengah hiruk pikuk pariwisata Pulau Dewata, umat Buddha di Vihara Sakyamuni memilih hening sejenak, Minggu (24/5). Mereka menggelar Upacara Pattidana, sebuah ritual tahunan yang sarat makna spiritual menjelang perayaan Tri Hari Suci Waisak.
Tradisi ini bukan sekadar seremonial. Pattidana merupakan momen bagi umat untuk melimpahkan jasa kebajikan yang telah mereka kumpulkan selama ini kepada para leluhur dan makhluk lain yang telah berpulang. Konsep ini dikenal dalam ajaran Buddha sebagai bentuk berbagi berkah lintas alam kehidupan.
Pelaksanaan upacara ini sengaja dilakukan beberapa hari sebelum puncak perayaan Waisak yang jatuh pada 31 Mei 2026. Menurut pengurus Vihara Sakyamuni, Pattidana adalah pemanasan spiritual yang penting. Umat diajak untuk mulai mengkondisikan batin, memperbanyak meditasi, dan memperkuat niat berbagi kebajikan.
Ritual ini juga menjadi pengingat bahwa esensi Waisak tidak hanya berpusat pada peringatan kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha. Lebih dari itu, Waisak adalah momentum introspeksi dan mempertebal rasa syukur kepada leluhur yang telah mendahului.
Dalam pelaksanaannya, umat berkumpul di aula utama vihara. Mereka membawa dupa, bunga, dan lilin sebagai simbol persembahan. Doa-doa paritta dibacakan secara bergantian oleh para biksu dan umat awam, menciptakan atmosfer khusyuk yang jarang ditemui di tengah keramaian destinasi wisata Bali.
“Melalui Pattidana, kami berbagi energi positif. Bukan hanya untuk keluarga yang sudah meninggal, tapi untuk semua makhluk,” ujar salah satu panitia pelaksana di lokasi. Kegiatan ini diikuti oleh lintas generasi, dari orang tua hingga anak muda yang mulai mendalami ajaran Buddha.
Rangkaian Tri Hari Suci Waisak di Bali biasanya juga diisi dengan pawai obor, meditasi massal, dan bakti sosial di sejumlah vihara. Pattidana menjadi pembuka yang menegaskan bahwa perayaan keagamaan di Bali tidak melulu soal destinasi, melainkan juga tentang tradisi yang mengakar kuat di komunitas lokal.