DENPASAR — Anggapan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat selalu menguntungkan eksportir mulai terusik. Di Bali, para pengusaha mebel dan kerajinan justru merasakan dampak sebaliknya: biaya produksi membengkak dan margin keuntungan tergerus.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Bali, I Ketut Sudiana, secara tegas membantah narasi tersebut. Menurutnya, kenaikan kurs dolar tidak otomatis membuat kantong pengusaha penuh.
Sudiana menjelaskan, meskipun pendapatan ekspor dalam dolar AS menjadi lebih besar saat dirupiahkan, beban di sisi produksi juga ikut meroket. Sebab, sebagian besar bahan baku dan komponen pendukung masih harus diimpor.
"Banyak bahan baku seperti finishing, lem, dan aksesori logam yang kami beli dengan dolar. Begitu rupiah melemah, harga bahan-bahan itu naik drastis," ujar Sudiana dalam keterangannya, Senin lalu.
Kondisi ini disebut paling berat dirasakan oleh pengusaha kecil dan menengah. Mereka tidak memiliki daya tawar yang kuat untuk menekan harga bahan baku atau menegosiasikan ulang kontrak dengan pembeli di luar negeri.
Akibatnya, keuntungan dari selisih kurs justru habis untuk menutup kenaikan biaya produksi. "Kami tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual ke buyer karena takut kehilangan pasar," tambah Sudiana.
HIMKI Bali berharap pemerintah dan Bank Indonesia dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan nilai tukar. Selain itu, mereka mendorong adanya insentif bagi pengusaha yang menggunakan komponen lokal agar ketergantungan pada bahan baku impor berkurang.
"Kami butuh kepastian, bukan sekadar klaim bahwa pengusaha ekspor diuntungkan. Realitanya di lapangan jauh berbeda," pungkas Sudiana.