GIANYAR — Aliansi Pemuda Hindu Bali (APHB) Kabupaten Gianyar bersama Pemkab Gianyar, Kementerian Agama, dan sejumlah organisasi kepemudaan menggelar Aci Pertiwi di kawasan Pura Puseh Puakan. Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan: Desa Puakan memiliki nilai historis yang erat dengan perjalanan Rsi Markandya dalam penyebaran agama Hindu di Bali Tengah.
Kegiatan yang dibuka oleh Asisten I Pemkab Gianyar, I Ketut Mudana, ini diikuti oleh peserta dari SMP, SMA, dan SMK se-Kecamatan Tegallalang. Mereka bersama-sama menanam berbagai jenis tanaman di lingkungan pura dan kawasan sekitarnya.
“Momentum Tumpek Wariga tidak hanya dimaknai sebagai ritual semata, tetapi juga menjadi pengingat untuk menjaga keseimbangan alam. Kegiatan Aci Pertiwi ini menjadi contoh kolaborasi yang baik antara pemerintah, tokoh agama, dunia pendidikan, dan generasi muda,” ujar Mudana saat membuka acara.
Ketua APHB Gianyar, I Wayan Degus Jaya, menjelaskan bahwa Aci Pertiivi tidak hanya berfokus pada penghijauan. Rangkaian acara juga mencakup layanan pengobatan gratis bagi masyarakat sekitar.
Menurutnya, pemilihan Desa Puakan sebagai lokasi kegiatan memiliki pertimbangan kuat. “Puakan memiliki nilai sejarah karena berkaitan dengan Bali Tengah dan perjalanan Rsi Markandya. Desa ini juga layak menjadi percontohan karena masyarakatnya masih sangat lekat dengan adat, budaya menyama braya, dan menjaga kelestarian alam,” jelasnya.
Degus Jaya menambahkan bahwa keterlibatan STT (Sekehe Teruna Teruni), prajuru desa adat, dan elemen masyarakat menjadi bukti bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu organisasi. Menurutnya, APHB ingin membangun kesadaran bersama bahwa yadnya dan kehidupan adat di Bali perlu tetap berjalan selaras tanpa menjadi beban berat bagi masyarakat.
“Bukan hanya APHB, semua pihak harus bergerak bersama. Tantangan kehidupan adat di Bali semakin berat, sehingga kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan harus terus dijaga,” katanya.
Melalui Aci Pertiwi, APHB Gianyar berharap gerakan ekoteologi ini tidak berhenti sebagai seremoni belaka. Mereka mendorong agar aksi penanaman pohon dan pelestarian lingkungan berbasis nilai spiritual ini berkembang menjadi budaya bersama dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas Hindu di Bali.