Rangkaian persembahyangan yang dipimpin Gubernur Koster dan Bupati Satria berlangsung khidmat. Tiga lokasi pusat ritual adalah Pura Puseh Mastulan, Pura Puseh Banjar Adat Ponjok, dan Pura Penataran Ped.
Seluruh jajaran kepala perangkat daerah, tokoh masyarakat, serta krama adat setempat turut hadir. Mereka kompak mengenakan busana adat Bali bernuansa putih, menambah kekhusyukan jalannya upacara.
Tumpek Wariga merupakan hari suci bagi umat Hindu yang dirayakan setiap Sabtu Umanis wuku Wariga. Esensinya memuliakan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan, sejalan dengan konsep Tri Hita Karana yang menjaga keharmonisan alam semesta.
Melalui ritual ini, umat memohon keselamatan dan kerahayuan (kesejahteraan) jagat Bali. Kehadiran dua pucuk pimpinan daerah di Nusa Penida memperkuat pesan pelestarian lingkungan di Pulau Dewata.
Tak hanya berfokus pada ritual di dalam pura, Gubernur Koster dan Bupati Satria menunjukkan komitmen ekologis. Sebelum puncak prosesi, mereka menanam langsung bibit pohon kelapa di kawasan sekitar areal pura.
Penanaman pohon kelapa ini menjadi simbolisasi esensi Tumpek Wariga yang secara tradisional dikenal dengan istilah Pengatag atau Uduh. Langkah ini wujud rasa syukur dan penghormatan atas alam yang menyediakan napas kehidupan.
Bupati Satria berharap momentum ini menjadi pengingat bagi krama Klungkung, khususnya di Nusa Penida, untuk terus menjaga kelestarian alam pariwisata. Ia menekankan pentingnya pariwisata berbasis kesucian adat dan budaya Bali agar lestari hingga generasi mendatang.