NEGARA — Kecelakaan maut di Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk merenggut nyawa seorang pedagang asongan yang tengah mencari nafkah di atas kapal feri. Korban, Yanti (33), warga Lingkungan Penginuman, Kelurahan Gilimanuk, ditemukan tewas setelah tubuhnya terjepit truk yang sedang bermanuver di dalam palka kapal. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (21/5) pagi, saat kapal feri tengah bersiap atau baru saja berlayar meninggalkan dermaga.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban diduga sedang berjualan asongan di antara barisan kendaraan berat di dalam kapal. Truk yang tengah melakukan penataan posisi di palka diduga tidak melihat keberadaan korban yang berada di area blind spot. Dalam hitungan detik, tubuh Yanti terjepit di antara bodi truk dan dinding kapal atau kendaraan lain.
Sopir truk disebut tidak menyadari insiden tersebut hingga terdengar teriakan dari pedagang lain. Petugas kapal dan awak feri segera menghentikan aktivitas bongkar muat, namun nyawa korban sudah tidak tertolong.
Yanti dikenal sebagai pedagang asongan yang setiap hari mangkal di area Pelabuhan Gilimanuk. Ia biasa berjualan aneka makanan ringan dan minuman kepada penumpang kapal feri, baik sebelum kapal berangkat maupun saat kapal berlayar. Warga sekitar menyebut korban adalah tulang punggung keluarga yang meninggalkan seorang anak.
Jenazah korban telah dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit setempat untuk proses identifikasi dan visum. Pihak keluarga di Lingkungan Penginuman, Kelurahan Gilimanuk, masih dalam proses menerima kabar duka ini.
Pasca-kejadian, otoritas Pelabuhan Gilimanuk bersama Satuan Lalu Lintas Polres Jembrana langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Petugas mengamankan sejumlah saksi di lokasi, termasuk sopir truk dan beberapa pedagang asongan lain yang melihat kejadian. Investigasi awal difokuskan pada aspek keselamatan prosedur bongkar muat kendaraan di dalam kapal.
Belum ada pernyataan resmi dari pihak ASDP maupun Polres Jembrana mengenai perkembangan penyelidikan. Namun, kejadian ini kembali menyoroti risiko tinggi yang dihadapi para pedagang asongan yang beraktivitas di area pelabuhan dan kapal feri, terutama saat bersanding dengan kendaraan besar dalam ruang terbatas.