DENPASAR — Gejala overtourism di Bali saat ini disebut lebih tepat sebagai over-concentrated tourism, alias kepadatan yang hanya terjadi di titik-titik tertentu. Kawasan seperti Canggu, Seminyak, Kuta, Uluwatu, dan Ubud menjadi wilayah yang paling merasakan dampaknya.
“Kalau kita lihat bahwa kondisi Bali saat ini memang tidak semuanya full sebagai overtourism, tapi sebagai over-concentrated di beberapa tempat seperti Canggu, Seminyak, Kuta, Uluwatu, dan Ubud,” kata Bagus Sastrawan, Minggu (17/5).
Menurutnya, konsentrasi wisatawan yang terlalu tinggi di selatan Bali sudah memicu sederet persoalan. Mulai dari kemacetan parah, lonjakan harga tanah, kebutuhan air bersih yang meningkat, hingga masalah sampah dan limbah yang belum tertangani.
“Hal yang menjadi permasalahan yaitu konsentrasi terjadi hanya pada Bali Selatan sehingga menyebabkan permasalahan infrastruktur, sampah, tata ruang, dan carrying capacity,” jelasnya.
Tidak hanya fisik, tekanan juga dirasakan pada aspek sosial budaya masyarakat lokal. Pola pariwisata yang terpusat ini dinilai tidak lagi berkelanjutan jika dibiarkan terus-menerus.
Bagus menilai Bali sebenarnya masih sangat realistis mengembangkan sport tourism dan berpeluang menjadi destinasi utama dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Kekuatan brand pariwisata Bali, akses internasional, keramahan masyarakat, serta tren global wisata olahraga yang terus naik menjadi modal utama.
“Bali itu sebenarnya masih bisa untuk menambah event olahraga besar seperti PON, tapi tidak dengan pola-pola lama di mana semuanya terpusat dan menyebabkan kemacetan,” ujarnya.
Sejumlah cabang sport tourism dinilai masih cocok dikembangkan di Bali, seperti triathlon, marathon, cycling, surfing, sailing, yoga festival, trail running, marine sport, hingga sport camp berbasis wellness dan lifestyle. “Kalau kita lihat di Bali ini bukan sekadar destinasi wisata biasa, tapi sudah menjadi lifestyle destination dan wellness destination,” tuturnya.
Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Udayana itu mendorong agar event-event olahraga mulai digelar di kabupaten yang belum mengalami kepadatan wisatawan. Daerah seperti Buleleng, Karangasem, Jembrana, Bangli, hingga Nusa Penida disebut memiliki potensi masing-masing yang bisa dikembangkan.
Pemerataan ini, menurut Bagus, menjadi kunci agar sport tourism tidak justru memperparah persoalan yang sudah ada di selatan Bali. Konsep berkelanjutan harus diterapkan sejak awal.
Selain menyebar lokasi, Bagus juga menekankan perlunya kesiapan infrastruktur pendukung. Transportasi ramah lingkungan, pembatasan kendaraan pribadi, serta pengelolaan sampah berbasis zero waste harus disiapkan agar tidak menambah beban Bali Selatan.
“Kalau kemacetan itu pasti akan menjadi masalah serius apabila tetap dilakukan di daerah selatan ataupun Denpasar. Sampah juga pasti akan menjadi masalah yang belum tertangani sampai saat ini,” pungkasnya.