BADUNG — Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Perhubungan mulai mematangkan rekayasa lalu lintas di kawasan Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan. Langkah jangka pendek ini dirancang untuk mengurai kemacetan yang kerap terjadi di jalur menuju destinasi wisata unggulan, Pura Uluwatu.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Badung, Anak Agung Gede Rahmadi, mengidentifikasi enam titik krusial yang menjadi sumber antrean panjang kendaraan. Titik-titik tersebut membentang dari persimpangan Nirmala ke arah selatan, kawasan Blimbing, Blimbing Sari, hingga pertigaan Toyoning 1 dan Toyoning 2.
“Kita membahas rekayasa lalu lintas di Pecatu untuk memecah kemacetan di pertigaan Toyoning. Ada enam titik, mulai dari Nirmala ke selatan, Blimbing, Blimbing Sari, sampai Toyoning 1 dan Toyoning 2,” ujar Rahmadi dalam rapat koordinasi di Ruang Rapat Kepala Dishub Badung, Rabu (13/5).
Pola rekayasa yang disiapkan Dishub Badung berfokus pada pengurangan titik persilangan kendaraan atau crossing. Selama ini, pertemuan arus dari berbagai arah di persimpangan menjadi penyebab utama penundaan dan kemacetan panjang.
“Pada prinsipnya kita mengurangi pemotongan-pemotongan arus kendaraan. Karena selama ini kemacetan terjadi akibat crossing di persimpangan yang menimbulkan penundaan. Sekarang dibuat semacam melingkar sehingga arus kendaraan tetap bergerak,” jelas Rahmadi.
Dengan sistem baru, kendaraan tidak akan berhenti lama di persimpangan karena arus dibuat terus mengalir. Warga dan wisatawan yang hendak menuju kawasan selatan Badung diharapkan bisa memangkas waktu tempuh secara signifikan.
Rahmadi menegaskan bahwa kelancaran lalu lintas menjadi bagian integral dari kualitas pariwisata di Badung. Destinasi yang bagus tidak akan maksimal jika akses menuju lokasi justru menyita waktu dan membuat tidak nyaman.
“Kalau menuju Pecatu atau Uluwatu terus macet, tentu menyita waktu dan membuat tidak nyaman. Sesuai arahan pimpinan, pariwisata harus berkualitas dan nyaman. Karena itu, kemacetan harus kita urai agar membawa kenyamanan dan kemakmuran bagi masyarakat,” katanya.
Dishub Badung tidak berhenti di Pecatu. Kawasan Canggu yang juga dikenal dengan kepadatan tinggi, terutama saat musim kunjungan wisatawan, akan menjadi target berikutnya. Penerapan rekayasa serupa direncanakan secara bertahap.
“Nanti rencananya ke Canggu. Kita coba urai satu per satu secara bertahap. Ini program jangka pendek, sementara jangka panjangnya nanti ada pembukaan jalan baru,” ungkap Rahmadi.
Agar penerapan rekayasa berjalan efektif, Dishub Badung menyiapkan sosialisasi masif. Pemerintah akan melibatkan camat, kepala lingkungan, hingga media sosial untuk menyebarluaskan informasi.
“Kita akan sampaikan kepada camat, kepala lingkungan, dibantu media sosial, dan juga secara formal bersurat ke masing-masing pimpinan wilayah,” tandasnya.
Selain itu, rapat koordinasi juga menindaklanjuti surat dari Rektor Universitas Udayana terkait permohonan izin pengalihan arus lalu lintas sementara dan pembongkaran PJU serta CCTV di Jalan Raya Kampus Unud, Jimbaran, untuk proyek pembangunan catus pata.