DENPASAR — Hubungan bilateral Bali dan Tiongkok memasuki babak baru setelah Gubernur Wayan Koster bertemu Konjen Zhang Zhisheng di kediaman resmi Konsulat Jenderal Tiongkok di Denpasar. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menyepakati percepatan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang akan dibangun di kawasan Denpasar dan Badung.
Konjen Zhang Zhisheng memastikan investor asal Tiongkok, Zhejiang Weiming, telah berpengalaman menggarap proyek serupa di berbagai negara. Ia juga menegaskan seluruh proses pembangunan akan mematuhi aturan hukum yang berlaku di Bali.
Gubernur Koster mengungkapkan proyek PSEL akan mulai dikerjakan setelah peletakan batu pertama pada Juli mendatang. Pematangan lahan ditargetkan rampung pada akhir Juni 2026, sementara proses konstruksi berlangsung selama 15 bulan.
"Saya memimpin langsung prosesnya bersama Bupati Badung dan Wali Kota Denpasar untuk memastikan semuanya berjalan baik hingga peletakan batu pertama," ujar Koster.
Fasilitas ini ditargetkan beroperasi pada Oktober 2027 dan diharapkan mampu menyelesaikan persoalan sampah di dua wilayah tersebut sekaligus memperkuat citra Bali sebagai destinasi wisata dunia yang bersih.
Selain infrastruktur, pertemuan tersebut menyoroti potensi besar komoditas buah Bali di pasar Tiongkok. Konjen Zhang menyebut manggis dan salak asal Bali memiliki permintaan tinggi namun pasokan masih terbatas.
"Manggis Bali memiliki potensi ekspor yang sangat besar ke Tiongkok. Salak juga sangat diminati, bahkan masih kekurangan pasokan. Rasanya khas dan sangat disukai masyarakat Tiongkok," kata Zhang.
Pemerintah Provinsi Bali akan mendorong peningkatan produksi dan standar mutu buah-buahan tersebut agar memenuhi persyaratan ekspor ke negara tujuan utama Asia Timur itu.
Kerja sama juga mencakup sektor digitalisasi pariwisata. Konjen Zhang menyebut sistem pembayaran QRIS antara Indonesia dan Tiongkok semakin memudahkan transaksi wisatawan lintas negara. Ia mengundang Gubernur Koster berkunjung ke Shenzhen, pusat teknologi Tiongkok, untuk memperkuat kolaborasi transformasi digital Bali.
Gubernur Koster menambahkan, hubungan Bali dan Tiongkok memiliki kedekatan historis dan kultural. "Di sejumlah tempat suci di Bali ada pemujaan terhadap dewa-dewi Tiongkok. Secara kultural, masyarakat Bali yang beragama Hindu memiliki nilai-nilai yang cukup mirip dengan budaya Tiongkok," jelasnya.
Saat ini, wisatawan asal Tiongkok menempati posisi ketiga terbesar dalam kunjungan ke Bali setelah Australia dan India. Pemerintah Bali berharap penguatan kerja sama ini mampu meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus memperluas pasar ekspor produk lokal.