Kadin Bali Dorong Generasi Muda Jadi Entrepreneur, Peringatkan Bonus Demografi Bisa Berubah Jadi Beban Pengangguran

Penulis: Darmawan Putra  •  Kamis, 14 Mei 2026 | 19:55:47 WIB
Ketua Kadin Bali I Made Ariandi menekankan pentingnya wirausaha baru untuk memanfaatkan bonus demografi.

MANGUPURA — Ketua Umum Kadin Bali I Made Ariandi menegaskan bahwa ledakan jumlah penduduk usia produktif harus disertai dengan lahirnya wirausaha baru. Jika tidak, bonus demografi hanya akan menjadi angka tanpa manfaat.

“Kalau bonus demografi ini tidak disiapkan dengan matang pada generasi muda, kita tidak akan bisa memetik bonus demografi. Indonesia Emas juga tidak akan terwujud,” ujar Ariandi dalam Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Provinsi Bali 2026 di Kampus Bukit Jimbaran Universitas Udayana, Rabu (13/5/2026).

Forum itu digelar bersamaan dengan agenda Akad Massal KUR 1.000 UMKM Ekonomi Kreatif. Kadin Bali menyoroti bahwa pertumbuhan jumlah penduduk produktif harus berbanding lurus dengan jumlah usaha baru yang mampu menyerap tenaga kerja secara masif.

UMKM sebagai Penyerap Tenaga Kerja Utama

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja di Indonesia. Karena itu, digitalisasi UMKM menjadi kunci agar sektor ini tidak tergerus oleh perubahan teknologi yang sangat cepat.

“Kalau tenaga kerja produktif bertambah dan jumlah penduduk produktif besar, itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sinilah peran Kadin menyiapkan mental dan jiwa-jiwa pengusaha untuk menciptakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja,” kata Ariandi.

Tiga Kesiapan Hadapi Era AI

Dalam paparannya, Kadin Bali memetakan tiga agenda utama atau “triple readiness” untuk menghadapi ekonomi digital. Pertama, kesiapan teknis penguasaan alat dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Kedua, kesiapan digital melalui literasi data dan kemampuan adaptasi. Ketiga, penguatan kemampuan manusia seperti kepemimpinan, empati, dan berpikir kritis yang tidak bisa digantikan mesin.

Ariandi mengakui bahwa mayoritas pelaku usaha masih berada dalam mode bertahan hidup atau survival mode. Akibatnya, teknologi kerap dipandang sebagai beban, bukan alat akselerasi bisnis.

“AI sering kali dipandang sebagai beban teknologi, padahal fungsinya mempercepat pekerjaan, meningkatkan efisiensi, dan menjaga momentum pertumbuhan,” ujarnya.

Sinergi Tiga Pilar: Kampus, Pemerintah, Industri

Kadin Bali mendorong re-engineering ekosistem UMKM agar lebih adaptif terhadap teknologi. Tidak hanya itu, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri juga dinilai penting. Beberapa kampus di Bali seperti Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, dan Universitas Pendidikan Nasional mulai diarahkan masuk dalam skema link and match dengan kebutuhan dunia usaha.

Perguruan tinggi didorong tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga membangun inkubator bisnis dan kurikulum berbasis kompetensi industri. Kadin Bali juga menyiapkan penguatan infrastruktur teknologi modern untuk UMKM, mulai dari AI scoring untuk penilaian kredit, geo-intelligence untuk pemetaan pasar dan logistik, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual digital.

“Transformasi digital bukan sekadar bertahan hidup di tengah persaingan, tetapi menciptakan peluang pertumbuhan baru,” tegas Ariandi. *

Reporter: Darmawan Putra
Sumber: nusabali.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top