SIMALUNGUN — Bupati Simalungun, Anton Achmad Saragih, memastikan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Danau Toba tidak akan berjalan sendiri tanpa melibatkan ekonomi warga di tingkat nagori. Arahan ini menjadi kesimpulan utama setelah dirinya mempelajari langsung model pariwisata berbasis budaya di Gianyar, Bali, pekan lalu.
Anton hadir dalam Focus Group Discussion (FGD) percepatan pengembangan KEK Danau Toba yang digagas Bank Indonesia di Kantor Bupati Gianyar. Forum itu dihadiri para kepala daerah kawasan Danau Toba, perwakilan Pemprov Sumatera Utara, tim ahli BRIN, serta Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gede Mayun.
Satu pelajaran pertama yang dibawa pulang adalah sistem orkestrasi lintas sektor. Seluruh organisasi perangkat daerah di Gianyar bergerak dalam satu irama mendukung pariwisata secara menyeluruh. Pendekatan ini terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi Gianyar hingga 5,58 persen, dengan inflasi tetap terkendali di angka 2,08 persen.
“Ini adalah tugas kita bersama untuk membangun pariwisata yang memiliki ruh, dengan tetap memegang teguh prinsip kerja BerAKHLAK. Kami berkomitmen untuk segera mewujudkan kerja sama nyata yang memastikan dapur masyarakat kita terus mengepul,” kata Anton dalam keterangan resmi yang diterima Mistar.id.
Pelajaran kedua datang dari Prof. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Prof. Cok Ace, Ketua PHRI Bali. Ia menekankan konsep local value chain — memastikan seluruh sektor masyarakat terhubung ke ekosistem pariwisata. Sektor perhotelan wajib menyerap hasil pertanian warga, produk UMKM harus menjadi bagian dari fasilitas dan suvenir destinasi, sementara generasi muda disiapkan melalui pendidikan karakter agar menjadi tuan rumah yang cerdas.
“Pariwisata adalah sebuah ekosistem yang saling mengikat satu sama lain. Jika pendidikan karakter masyarakat kuat, dan sektor produksi rakyat seperti pertanian serta kerajinan berjalan dengan baik, maka pariwisata akan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Prof. Cok Ace.
Prof. Cok Ace juga mengingatkan agar pengembangan Danau Toba tetap menjunjung ciri khas arsitektur asli Simalungun. Identitas visual yang unik disebutnya bisa menjadi pembeda dari destinasi lain di dunia.
Pelajaran ketiga menyangkut sistem pembayaran digital. Bank Indonesia mendorong pemanfaatan QRIS agar belanja wisatawan langsung berputar di masyarakat secara aman, transparan, dan tepat sasaran. Manfaat ekonomi pariwisata diharapkan bisa dirasakan langsung oleh pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga pengrajin lokal.
Menanggapi hal itu, Bupati Anton menegaskan hotel-hotel dan destinasi wisata di kawasan Danau Toba harus menjadi pasar utama bagi hasil bumi petani, produk perkebunan, hingga karya pengrajin nagori sekitar. Dengan dukungan Pemprov Sumatera Utara, Bank Indonesia, dan BRIN, ia optimistis KEK Danau Toba bisa menjadi model pariwisata berkelas dunia sekaligus berkeadilan bagi masyarakat lokal.