KLUNGKUNG — Fenomena pengobatan alternatif saraf kejepit atau Herniated Nucleus Pulposus (HNP) menggunakan media selendang kini tengah berkembang pesat di Kabupaten Klungkung. Pasien yang datang tidak hanya berasal dari wilayah Bali, tetapi juga merambah ke penderita dari luar daerah yang mencari opsi penyembuhan selain tindakan medis di rumah sakit.
Penyakit saraf kejepit selama ini dikenal sebagai kondisi yang sangat menyiksa dan sering kali menghambat aktivitas harian penderitanya secara total. Pasien yang merasa jenuh dengan konsumsi obat-obatan jangka panjang mulai beralih ke metode tradisional yang dianggap lebih alami dan minim risiko efek samping bagi organ tubuh lainnya.
Metode yang diterapkan dalam terapi ini tergolong unik karena hanya menggunakan selembar kain selendang sebagai alat bantu utama. Praktisi terapi melakukan gerakan penarikan atau traksi pada titik-titik saraf tertentu untuk mengembalikan posisi bantalan tulang belakang yang mengalami pergeseran.
Gerakan yang dilakukan harus presisi dan membutuhkan keahlian khusus agar tidak memperparah kondisi peradangan saraf pasien. Banyak warga melaporkan adanya perubahan signifikan, seperti berkurangnya rasa kebas dan nyeri yang menjalar dari pinggang hingga kaki, setelah menjalani beberapa kali sesi pertemuan rutin.
Hal yang menarik dari praktik terapi di Klungkung ini adalah kehadiran pasien dari kalangan tenaga medis, mulai dari perawat hingga dokter. Mereka datang bukan sekadar untuk melihat, melainkan turut merasakan langsung manfaat dari tarikan selendang tersebut untuk mengatasi keluhan fisik yang mereka alami sendiri.
Kepercayaan dari kalangan profesional medis ini memberikan legitimasi tersendiri bagi praktik pengobatan tradisional di mata masyarakat luas. Meski bersifat alternatif, pendekatan yang dilakukan dinilai memiliki logika mekanis yang serupa dengan prinsip fisioterapi modern dalam menangani masalah muskuloskeletal pada tubuh manusia.
Bagi sebagian besar warga, terapi selendang menjadi solusi praktis ketika dihadapkan pada pilihan operasi yang membutuhkan biaya besar serta waktu pemulihan yang lama. Keberadaan pengobatan ini memperkaya khazanah kearifan lokal Bali dalam bidang kesehatan masyarakat yang tetap relevan di tengah kemajuan teknologi medis.
Meningkatnya kunjungan pasien ke Klungkung juga memberikan dampak positif pada pergerakan ekonomi lokal di sekitar lokasi praktik terapi. Warga berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap standarisasi keamanan praktik pengobatan tradisional agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan kesembuhan.