DENPASAR — Bali kini bergelut dengan timbulan sampah yang menembus 3.400 ton setiap hari. Lonjakan limbah ini berpusat di kawasan padat penduduk seperti Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.
Kondisi TPA Suwung yang meluap menjadi sinyal merah ancaman krisis lingkungan serius. Masalahnya bukan sekadar kapasitas lahan, melainkan pergeseran perilaku masyarakat urban yang kian abai terhadap limbah produksinya sendiri.
Meja kafe dan toko modern di Denpasar kini sering dipenuhi sampah sisa konsumen yang pergi begitu saja. Fenomena ini memicu istilah "mental bos", sebuah pola pikir yang melempar tanggung jawab kebersihan kepada petugas karena merasa sudah membayar.
Kondisi ini menciptakan paradoks sosial yang tajam. Warga vokal menghujat sungai tercemar di media sosial, namun enggan membuang bekas makanan sendiri ke tempat sampah yang hanya berjarak beberapa langkah.
Sampah kecil seperti sedotan plastik, tisu, hingga puntung rokok kini menjadi pemandangan lumrah yang merusak etika ruang publik. Akumulasi pembiaran ini mencerminkan rapuhnya kesadaran sosial di tengah budaya konsumsi instan.
Dalam tinjauan antropologi perkotaan, sampah adalah jejak kebudayaan yang mencerminkan watak masyarakatnya. Manusia modern di Bali terjebak dalam siklus memakai lalu membuang tanpa rasa memiliki terhadap ruang publik.
Hubungan sosial yang longgar di kawasan urban membuat individu kehilangan rasa malu saat mengotori tempat umum. Hal ini kontras dengan kehidupan desa tradisional yang masih menjunjung tinggi ikatan sosial dan kebersihan lingkungan.
Bali mempromosikan filosofi Tri Hita Karana untuk menjaga keseimbangan manusia dengan alam. Namun, gaya hidup urban yang serba cepat perlahan meretakkan implementasi nilai luhur tersebut dalam keseharian.
Pemerintah Provinsi Bali telah menggulirkan Gerakan Bali Bersih Sampah hingga pembatasan plastik sekali pakai. Namun, kebijakan tersebut mustahil efektif tanpa perubahan perilaku nyata di tingkat akar rumput.
Perang melawan sampah bukan sekadar urusan alat berat di TPA atau penambahan truk pengangkut. Tantangan terbesarnya adalah menundukkan egoisme diri untuk berhenti memelihara "mental bos" demi keberlangsungan ekosistem Pulau Dewata.