Startup AI Artisan menghadapi tuduhan pencurian karya seni setelah menggunakan meme populer "This is fine" milik KC Green dalam kampanye iklan terbarunya. Kontroversi ini memicu diskusi hangat di kalangan kreator konten mengenai perlindungan hak cipta di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan untuk kepentingan komersial.
Artisan, sebuah startup kecerdasan buatan (AI) yang mengembangkan asisten penjualan digital bernama Ava, kini tengah menjadi sorotan negatif. Perusahaan tersebut diduga menggunakan ilustrasi komik ikonik "This is fine" karya KC Green tanpa izin dalam sebuah kampanye iklan di stasiun kereta bawah tanah.
Iklan tersebut menampilkan karakter anjing yang duduk di tengah kobaran api, namun dengan teks yang telah dimodifikasi menjadi "[M]y pipeline is on fire". Di atas gambar tersebut, Artisan menyematkan pesan promosi yang mengajak perusahaan untuk menyewa "Ava the AI BDR" guna menggantikan peran tenaga kerja manusia.
KC Green, kreator asli komik tersebut, mengungkapkan kekecewaannya melalui platform Bluesky pekan ini. Green menyatakan bahwa dia menerima banyak laporan dari masyarakat mengenai penggunaan karyanya oleh Artisan untuk mempromosikan teknologi AI.
"Ini bukan sesuatu yang saya setujui," tegas Green. Dia menambahkan bahwa karyanya telah "dicuri sebagaimana cara AI mencuri" dan bahkan sempat meminta pengikutnya untuk merusak iklan tersebut jika menemukannya di ruang publik.
Menanggapi polemik yang memanas, pihak Artisan memberikan pernyataan singkat melalui surat elektronik. "Kami sangat menghormati KC Green dan karyanya, dan kami sedang menghubungi dia secara langsung," tulis perwakilan perusahaan. Mereka juga mengklaim telah menjadwalkan waktu untuk berbicara dengan sang seniman.
Ini bukan pertama kalinya Artisan memicu kontroversi di industri teknologi. Sebelumnya, startup ini sempat memasang papan iklan besar dengan pesan provokatif: "Berhenti mempekerjakan manusia."
CEO Artisan, Jaspar Carmichael-Jack, sempat membela kampanye tersebut dengan dalih bahwa pesan itu merujuk pada kategori pekerjaan tertentu, bukan manusia secara keseluruhan. Namun, penggunaan karya KC Green kali ini dianggap melampaui batas etika karena melibatkan eksploitasi langsung terhadap hak kekayaan intelektual (HKI).
Komik "This is fine" sendiri pertama kali muncul dalam seri webcomic "Gunshow" pada tahun 2013. Selama satu dekade terakhir, gambar tersebut telah menjadi salah satu meme paling tahan lama di internet untuk menggambarkan situasi kacau yang dipaksakan tampak normal.
KC Green menyatakan sedang mempertimbangkan untuk membawa kasus ini ke jalur hukum. "Saya akan mencari perwakilan hukum, karena saya merasa harus melakukannya," ungkap Green. Dia merasa frustrasi karena harus membuang waktu untuk berurusan dengan sistem pengadilan alih-alih fokus berkarya.
"Pecundang AI tanpa pemikiran ini bukannya tidak tersentuh, dan meme tidak muncul begitu saja dari udara hampa," tambah Green dalam keterangannya. Kasus ini mengingatkan pada langkah hukum serupa yang pernah diambil kartunis Matt Furie saat menggugat situs Infowars karena menggunakan karakter Pepe the Frog tanpa izin.
Fenomena ini menjadi peringatan penting bagi komunitas ilustrator dan kreator konten di Indonesia. Di tengah tren adopsi AI yang sangat masif di pasar lokal, batasan antara inspirasi dan pencurian HKI sering kali menjadi kabur.
Kreator lokal kini didorong untuk lebih sadar akan hak-hak mereka atas karya yang viral di media sosial. Meskipun sebuah gambar telah menjadi meme publik, hak komersial tetap melekat pada pencipta aslinya, terutama jika digunakan oleh korporasi untuk meraup keuntungan.
Kasus Artisan vs KC Green ini diprediksi akan menjadi referensi penting dalam perdebatan regulasi AI global. Ke depannya, transparansi sumber data pelatihan AI dan etika penggunaan aset visual dalam pemasaran akan menjadi standar baru yang dituntut oleh publik dan regulator.