Pencarian

Newcastle Perkenalkan Matthias Jaissle sebagai Pelatih Baru, Warisi 'Kekosongan' Usai Ditinggal Tiga Bintang

Rabu, 12 Agustus 2026 • 03:36:31 WIB
Newcastle Perkenalkan Matthias Jaissle sebagai Pelatih Baru, Warisi 'Kekosongan' Usai Ditinggal Tiga Bintang
Matthias Jaissle menyalami awak media sebelum memulai konferensi pers perdananya sebagai pelatih Newcastle United di Bali.

BALI — Jaissle, yang ditunjuk menggantikan Eddie Howe, langsung menunjukkan sikap rendah hati dengan menyalami seluruh awak media yang hadir sebelum konferensi pers dimulai. Namun di balik keramahannya, pelatih berusia 38 tahun itu sadar betul tantangan besar menantinya di St James' Park.

Warisan Sulit: Kehilangan Tiga Pilar di Bursa Transfer

Newcastle musim panas ini kehilangan Anthony Gordon, Sandro Tonali, dan Bruno Guimarães — tiga nama yang menjadi tulang punggung tim musim lalu. Jaissle menyebut situasi ini sebagai "kekosongan" yang harus segera diisi.

"Mereka adalah karakter hebat, pemain hebat, dan pemain berpengalaman. Kami sedang dalam fase transisi. Tugas saya adalah mengambil yang terbaik dari semua ini. Saya cukup optimistis," ujar Jaissle dalam konferensi pers perdananya, seperti dikutip dari laporan media Inggris.

Mantan pelatih Al-Ahli dan RB Salzburg itu menegaskan ambisinya membawa Newcastle meraih kesuksesan, tetapi meminta kesabaran dari para pendukung. "Kami ambisius, itu yang terpenting dan alasan saya memutuskan datang ke sini. Tapi itu tidak akan terjadi dalam semalam. Saya yakin ini akan menjadi kisah sukses, tapi kami butuh waktu," tambahnya.

Kedekatan dengan Tuchel dan Gaya Main yang Dijanjikan

Jaissle mengaku rutin berkomunikasi dengan pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, yang pernah menjadi pelatihnya di akademi Stuttgart. "Thomas adalah pelatih muda saya saat saya masih pemain muda. Dia luar biasa, saya sangat mengaguminya. Saya ingin terus menjalin kontak dan mendapatkan wawasan tentang liga ini," katanya.

Meski demikian, Jaissle menegaskan akan membangun penilaiannya sendiri terhadap para pemain. "Penting bagi saya untuk bersikap netral terhadap pemain. Setiap pelatih punya pendapatnya masing-masing, dan kadang pemain terjebak dalam kotak penilaian itu."

Soal gaya bermain, pelatih yang dijuluki "api" dan "bintang rock" oleh CEO Newcastle, David Hopkinson, itu menjanjikan permainan menyerang. "Front foot, intens, agresif, vertikal, dan tentu saja sukses," tegasnya.

Sambutan Hangat Suporter dan Strategi Rekrutmen Muda

Jaissle mengaku tersentuh dengan sambutan para penggemar Newcastle. Suporter bahkan sudah mengubah lirik lagu hits era 1970-an, "Yes Sir, I Can Boogie", menjadi "Oh Jaissle I can boogie" saat laga uji coba melawan Valencia pekan lalu.

"Semua staf saya bilang mereka ingin duduk di bar setelah pertandingan dan mendengarkan lagu itu. Saya mendengarnya sekali dan saya tersenyum. Saya sangat senang para penggemar sudah menghargai saya," tuturnya.

Dengan keterbatasan finansial akibat aturan profit and sustainability, Newcastle mengubah strategi rekrutmen dengan memburu pemain muda yang punya potensi jual tinggi. Empat dari lima rekrutan anyar musim ini berusia 20 tahun ke bawah. Jaissle juga dikaitkan dengan bek Benfica, Amar Dedic, yang pernah dilatihnya di Salzburg.

"Saya sudah cukup lama berkecimpung di industri ini, jadi saya tidak bisa menjanjikan apa pun. Tidak masuk akal untuk berjanji sekarang karena saya tidak tahu bagaimana situasinya setahun ke depan. Tapi tidak masuk akal juga untuk melihat sisi negatifnya. Akan ada penyesuaian lagi untuk skuad musim panas ini. Kita masih punya waktu," pungkasnya.

Follow denpasar24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks