JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali terasa menjelang pengumuman kebijakan moneter paling krusial bulan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.762 per dolar AS pada Rabu (17/6/2026), setelah sebelumnya sempat menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dan mengalami rebound dalam beberapa hari terakhir.
BI Rate Jadi Fokus Utama Pasar
Perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil RDG BI yang akan diumumkan pada Kamis (18/6/2026) hari ini. Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan RDG bulan Juni ini menjadi momen krusial setelah BI mengambil langkah agresif dalam beberapa pekan terakhir.
"Pada pekan lalu BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui RDG Mingguan. Langkah serupa juga terjadi pada RDG Bulanan sebelumnya, ketika BI menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin," kata Ibrahim dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu.
Langkah Agresif BI untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Ibrahim menuturkan, rangkaian kenaikan suku bunga acuan tersebut merupakan respons BI terhadap tekanan berat yang dialami rupiah terhadap dolar AS. Pasar kini menanti apakah bank sentral akan kembali menaikkan BI Rate atau mempertahankan level saat ini untuk menjaga momentum pemulihan nilai tukar.
Kebijakan moneter yang ketat ini menjadi sinyal bahwa BI berkomitmen menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global dan tekanan eksternal yang masih tinggi.
Diversifikasi Pasokan Minyak Kurangi Risiko Geopolitik
Di sisi lain, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh dinamika harga minyak mentah global. Ibrahim menyebut, Indonesia saat ini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah yang melalui Selat Hormuz.
Pemerintah telah mengamankan pasokan energi nasional melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok alternatif. Langkah diversifikasi ini dilakukan untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Dengan strategi tersebut, Indonesia memiliki alternatif sumber impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Meski demikian, pemerintah tetap mengedepankan pertimbangan harga dalam menentukan sumber pasokan minyak mentah. Pemerintah akan memilih sumber minyak yang menawarkan harga paling kompetitif guna menjaga efisiensi dan mengurangi beban fiskal negara," jelas Ibrahim.