Pencarian

Momentum Galungan-Kuningan 2026, PSI Tabanan Ajak Kader Introspeksi Diri demi Jaga Taksu dan Ajeg Bali

Selasa, 16 Juni 2026 • 19:03:31 WIB
Momentum Galungan-Kuningan 2026, PSI Tabanan Ajak Kader Introspeksi Diri demi Jaga Taksu dan Ajeg Bali
PSI Tabanan mengajak kader introspeksi diri dalam momentum Galungan-Kuningan 2026 untuk menjaga taksu Bali.

TABANAN — Perayaan Galungan yang jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026, tak hanya dimaknai sebagai ritual tahunan oleh PSI Tabanan. Partai ini justru melihatnya sebagai titik tolak untuk memperkuat fondasi sosial dan budaya Bali.

Edi Wirawan menekankan bahwa Galungan merupakan simbol kemenangan dharma melawan adharma yang harus dimulai dari dalam diri manusia. Ia mengajak kader untuk melakukan Mulat Sarira, sebuah filosofi mawas diri untuk menyadari penderitaan sesama, berani bertanggung jawab, dan menerima kritik.

Mengapa Introspeksi Diri Jadi Kunci Menjaga Bali?

Menurut Edi, semangat Mulat Sarira tidak boleh berhenti saat upacara selesai. Filosofi ini harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar nilai-nilai luhur Bali tetap terjaga.

“Galungan adalah simbol kemenangan dharma melawan adharma. Kemenangan itu dimulai dari dalam diri kita,” ujarnya dalam pernyataan yang diterima redaksi.

Ia menegaskan bahwa menjaga Bali bukan sekadar urusan budaya, melainkan juga menjaga taksu—wibawa yang lahir dari ketulusan, kejujuran, dan penghormatan terhadap adat istiadat. “Taksu Bali merupakan prilaku, ia hidup saat kita bekerja dengan Iklas, pemuda melestarikan budaya, selalu berbahasa Bali, dan birokrasi melayani tanpa pamrih,” papar Edi.

Tiga Pilar Tri Hita Karana yang Didorong PSI Tabanan

Dalam kesempatan itu, Edi mendorong seluruh anggota dan simpatisan untuk mengamalkan tiga pilar utama Tri Hita Karana secara konkret.

  • Parhyangan: Hubungan spiritual dengan Sang Hyang Widhi Wasa melalui peningkatan kualitas ibadah.
  • Pawongan: Menjaga kebersamaan, saling menghormati, dan memperkuat budaya gotong royong antarsesama.
  • Palemahan: Menjaga kelestarian alam Bali, termasuk kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya.

“Taksu adalah wibawa, ia dilahirkan dari kejujuran, kebersihan, dan ketulusan, dari adat budaya yang dihargai bukan di eksploitasi,” tegas Edi.

Ajeg Bali yang Beradab Dimulai dari Gotong Royong

Edi Wirawan menutup arahannya dengan pesan bahwa kemenangan dharma dalam diri akan memicu tumbuhnya semangat gotong royong. Baginya, Bali yang ajeg adalah Bali yang beradab, bukan sekadar Bali yang eksotis bagi wisatawan.

“Saat dharma menang dalam diri, maka gotong royong akan tumbuh, dan Bali yang ajeg adalah Bali yang beradab,” tutupnya.

Bagikan
Sumber: analisnews.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks