DENPASAR — Masyarakat Bali dihadapkan pada situasi yang tidak biasa saat pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 berlangsung tanpa kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto. Kondisi ini memunculkan tanda tanya di tengah publik, terutama mengingat tradisi tahunan yang biasanya mendapat sorotan langsung dari kepala negara.
Mengapa Presiden Tidak Hadir di Pembukaan PKB?
De Gadjah menjelaskan bahwa ketidakhadiran Prabowo bukanlah indikasi berkurangnya dukungan pusat terhadap Bali. Ia menyebut ada agenda prioritas nasional yang tidak bisa ditinggalkan oleh presiden pada waktu yang bersamaan.
“Perhatian Presiden untuk Bali tidak berkurang. Beliau memiliki jadwal kenegaraan yang sudah ditetapkan jauh-jauh hari,” ujar De Gadjah dalam keterangan pers di Denpasar, Senin.
Mari Sukseskan PKB, Fokus pada Esensi Kesenian
Alih-alih memperdebatkan ketidakhadiran, Sekda Bali justru mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyukseskan pagelaran PKB. Menurutnya, esensi dari festival ini adalah merawat dan mempromosikan warisan budaya Bali, bukan sekadar seremoni pembukaan.
“Mari kita sukseskan PKB. Ini momentum kita bersama untuk menunjukkan bahwa Bali tetap kokoh dalam melestarikan seni dan budaya,” tambahnya.
PKB XLVIII: Ajang Budaya yang Dinanti
Pesta Kesenian Bali merupakan agenda tahunan yang sudah berlangsung hampir setengah abad. Acara ini menjadi panggung bagi ribuan seniman dari berbagai kabupaten/kota di Bali untuk menampilkan tarian, musik, dan tradisi khas daerah.
Meski tanpa kehadiran presiden, panitia memastikan seluruh rangkaian acara tetap berjalan sesuai rencana. Masyarakat diharapkan tetap antusias menyaksikan pertunjukan yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan.
Apa Dampaknya bagi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif?
PKB tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga motor penggerak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali. Ribuan pengunjung domestik dan mancanegara diprediksi hadir selama penyelenggaraan, memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM dan perhotelan.
Dengan atau tanpa seremoni kenegaraan, gelaran ini tetap menjadi daya tarik utama yang memperkuat posisi Bali sebagai destinasi budaya kelas dunia.