BALI — Tiga codec Bluetooth paling umum—SBC, AAC, dan LDAC—menentukan kualitas suara headphone nirkabel Anda. SBC didukung hampir semua perangkat, AAC jadi standar perangkat Apple, sementara LDAC menawarkan bitrate hingga 990 kbps dan resolusi audio 24-bit/96 kHz. Pilihan codec yang tepat bergantung pada perangkat dan kebutuhan mendengarkan Anda.
Codec audio Bluetooth bekerja seperti penerjemah antara sumber musik dan headphone. Setiap codec mengompresi dan mengirimkan data audio melalui koneksi nirkabel dengan cara berbeda, sehingga kualitas suara yang sampai ke telinga ikut dipengaruhi. SBC, AAC, dan LDAC mewakili tiga pendekatan berbeda dalam hal kompatibilitas, efisiensi, dan kualitas.
Codec adalah algoritma kompresi yang menentukan seberapa banyak data audio dikirim melalui koneksi Bluetooth. Koneksi nirkabel punya bandwidth terbatas, jadi codec harus menyeimbangkan ukuran data dengan kualitas suara.
Semakin tinggi bitrate yang didukung, semakin banyak detail audio yang bisa dipertahankan. Namun, bitrate tinggi juga menuntut kompatibilitas perangkat dan koneksi yang stabil. Di sinilah perbedaan SBC, AAC, dan LDAC terasa.
SBC (Subband Coding) adalah codec Bluetooth audio paling dasar dan wajib didukung semua perangkat berlogo Bluetooth. Kompatibilitasnya nyaris universal, sehingga hampir pasti berfungsi di kombinasi smartphone dan headphone apa pun.
Kekurangan SBC terletak pada kualitas. Bitrate-nya relatif rendah dan kompresinya agresif, sehingga detail suara sering terasa kurang tajam dibanding codec lain. SBC cocok sebagai pilihan cadangan ketika codec lain tidak tersedia.
AAC (Advanced Audio Coding) banyak dipakai di perangkat Apple, termasuk iPhone dan AirPods. Codec ini juga didukung sejumlah Android dan headphone modern, meski kualitas implementasinya bisa berbeda antarperangkat.
Secara teknis, AAC menawarkan efisiensi kompresi lebih baik daripada SBC pada bitrate setara. Hasilnya, suara umumnya terdengar lebih bersih dan detail. Bagi pengguna iPhone, AAC adalah pilihan paling praktis karena didukung secara native.
LDAC dikembangkan Sony dan mendukung bitrate hingga 990 kbps serta resolusi audio sampai 24-bit/96 kHz. Angka itu jauh di atas SBC dan AAC, sehingga LDAC mampu mengirim lebih banyak detail audio.
Konsekuensinya, LDAC menuntut headphone dan sumber yang kompatibel, biasanya perangkat Android tertentu dan headphone kelas menengah ke atas. Koneksi juga perlu stabil agar bitrate tinggi tidak turun otomatis. Pengguna yang mendengarkan musik resolusi tinggi lewat layanan streaming lossless akan merasakan manfaat terbesarnya.
Pengguna iPhone sebaiknya mengandalkan AAC karena dukungan native dan implementasinya konsisten. Pemilik Android dengan headphone kelas menengah ke atas bisa mempertimbangkan LDAC untuk kualitas suara maksimal, asalkan koneksi stabil.
Jika perangkat tidak mendukung codec tertentu, SBC tetap menjadi penyelamat karena hampir selalu tersedia. Periksa spesifikasi headphone dan smartphone sebelum membeli agar codec yang diinginkan benar-benar berfungsi.
Pada akhirnya, codec hanyalah satu faktor dari kualitas suara nirkabel. Kualitas driver, tuning pabrikan, dan sumber audio tetap berperan besar. Pembeli headphone sebaiknya mencocokkan codec dengan perangkat yang dipakai sehari-hari agar tidak membayar fitur yang tidak terpakai.