BALI — Anak yang menangis karena nilai 95 bukan 100 sering dianggap pekerja keras, padahal bisa jadi tanda perfeksionisme yang menekan batinnya. Kenali 10 ciri anak perfeksionis menurut psikolog agar Ibu bisa membantu si kecil sebelum tekanan itu berdampak pada kesehatan mentalnya.
Perfeksionisme pada anak tidak selalu terlihat dari prestasi gemilang di sekolah. Justru sering muncul dari hal-hal kecil yang luput dari perhatian orang tua, seperti menolak makan sebelum tugas selesai atau marah saat hasil gambarnya tidak sesuai bayangan.
Psikiater anak dan remaja Evita Limon-Rocha, MD, menyebut kebutuhan untuk sempurna lahir dari campuran stresor eksternal dan temperamen internal anak. Sementara penulis buku Never Enough: When Achievement Culture Becomes Toxic, Jennifer Breheny Wallace, menambahkan bahwa budaya yang terobsesi prestasi membuat banyak anak menginternalisasi pesan bahwa siapa diri mereka saja tidak cukup.
Anak perfeksionis bisa berjam-jam mengerjakan satu tugas karena ingin hasilnya sempurna. Menurut Limon-Rocha, mereka kerap menolak beralih ke aktivitas lain seperti makan atau mandi sampai pekerjaannya benar-benar selesai sesuai standar mereka sendiri.
Wallace menjelaskan anak yang bergulat dengan perfeksionisme cenderung mengabaikan pujian dan justru terpaku pada kesalahan kecil. Mereka bahkan bisa melontarkan kalimat seperti "Aku bodoh sekali" hanya karena melakukan kesalahan sepele.
Anak perfeksionis biasanya terbuka soal keinginannya mengerjakan segala hal dengan sempurna. Mereka tidak ragu menyampaikan tuntutan ini secara tegas kepada orang tua, guru, atau teman di sekitarnya.
Meski terobsesi hasil sempurna, anak perfeksionis justru sering menghindari tantangan. Wallace menuturkan, jika anak menolak mencoba hal baru atau cepat menyerah saat keadaan sulit, itu bisa jadi tanda rasa takut gagal yang kuat.
Limon-Rocha mengungkap anak perfeksionis dapat menunjukkan emosi meledak-ledak ketika tugas tidak selesai dengan sempurna. Episode ini bisa makin sering dan bahkan terjadi setiap hari jika tidak ditangani.
Perfeksionisme sering disertai prokrastinasi. Anak menunda tugas sekolah bukan karena tidak peduli, melainkan karena takut tidak bisa mengerjakannya dengan "benar" sesuai ekspektasinya.
Menurut Wallace, anak yang butuh jaminan terus-menerus dan merasa hancur saat nilainya kurang dari A sedang mengaitkan harga diri dengan persetujuan orang lain. Mereka haus pujian setiap kali menyelesaikan sesuatu.
Limon-Rocha menjelaskan anak perfeksionis sering merenung sebelum tidur. Mereka mengkhawatirkan hal yang tidak dikerjakan dengan sempurna atau membayangkan kesalahan yang mungkin terjadi keesokan harinya.
Beberapa anak makan lebih banyak atau justru lebih sedikit sebagai cara mengatasi stres akibat tuntutan sempurna. Perubahan pola makan yang berlangsung terus-menerus perlu jadi perhatian serius orang tua.
Anak perfeksionis memasang standar yang jauh melampaui kemampuannya. Ketika kenyataan tidak sesuai, mereka bisa merasa gagal total meski orang lain menilai hasilnya sudah bagus.
Jika beberapa ciri di atas muncul bersamaan, berlangsung berminggu-minggu, dan mulai mengganggu tidur, makan, atau hubungan sosial anak, sebaiknya konsultasikan ke psikolog anak. Tangisan harian, penolakan sekolah, atau keluhan fisik tanpa sebab jelas juga patut jadi tanda Ibu perlu mencari bantuan profesional.
Wallace menyarankan orang tua untuk memisahkan antara usaha dan hasil saat memberi apresiasi. Pujilah proses, keberanian mencoba, dan cara anak bangkit dari kesalahan, bukan hanya nilai akhir.
Hindari membandingkan anak dengan saudara atau temannya. Ciptakan rutinitas yang memberi ruang untuk istirahat dan bermain tanpa target, supaya anak belajar bahwa dirinya berharga bukan karena pencapaian semata.
Menghadapi anak perfeksionis bukan soal melarangnya berprestasi, melainkan menemaninya memahami bahwa kesalahan adalah bagian wajar dari proses belajar. Dengan dukungan yang tepat, anak bisa tumbuh ambisius tanpa harus mengorbankan ketenangan batinnya.