Alam dan Budaya Jadi Fondasi Ekonomi Kreatif Berkelanjutan

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Selasa, 29 September 2026 | 16:17:32 WIB
Praktisi budaya dan pariwisata Harry Waluyo menyampaikan gagasan soal rantai nilai budaya dan pariwisata berkelanjutan dalam kajian yang berpusat di Ambon, Maluku.

BALI — Praktisi budaya dan pariwisata Harry Waluyo menegaskan alam dan budaya bukan dua sektor terpisah, melainkan satu sistem kehidupan yang bisa menopang ekonomi kreatif Indonesia menuju 2045. Gagasan itu ia sampaikan dalam kajian soal rantai nilai budaya dan pariwisata berkelanjutan yang berpusat di Ambon, Maluku. Pendekatan ini menawarkan cara baru membaca potensi wisata daerah, dari gastronomi hingga kerajinan.

Harry Waluyo, yang lama berkecimpung di bidang budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata, melihat banyak komunitas di Indonesia sudah lama mempraktikkan apa yang ia sebut siklus nilai. Interaksi manusia dengan alam selama generasi melahirkan pengetahuan, tradisi, keterampilan, sistem pangan, seni, hingga kerajinan yang khas.

Kekayaan itulah yang menurutnya belum sepenuhnya dihitung sebagai aset ekonomi. Selama ini alam dan budaya kerap dipisahkan dalam perencanaan pembangunan, padahal keduanya saling menopang.

Dari Alam dan Budaya ke Nilai Ekonomi

Harry mengembangkan gagasan bahwa potensi alam dan budaya bisa diolah lewat sebuah siklus. Titik awalnya alam dan budaya, lalu masuk ke kreativitas, kekayaan intelektual, produk atau jasa, pengalaman, pasar, dan akhirnya nilai ekonomi.

Nilai yang dihasilkan tidak berhenti di situ. Menurut Harry, manfaatnya harus kembali ke masyarakat sekaligus mendukung pelestarian alam dan budaya itu sendiri.

"Alam dan budaya merupakan bagian dari satu sistem kehidupan," tulis Harry dalam gagasan utamanya.

Dalam kerangka ini, ekonomi kreatif berperan mengubah kreativitas yang bersumber dari budaya menjadi nilai tambah. Sementara kekayaan intelektual menjaga kepemilikan karya budaya agar nilai ekonominya bisa dikelola lebih rapi.

Pariwisata Berbasis Pengalaman, Bukan Sekadar Tontonan

Untuk sektor pariwisata, Harry mendorong pergeseran pendekatan. Budaya jangan hanya dijadikan daya tarik wisata, tetapi diolah menjadi pengalaman yang lebih bermakna bagi pengunjung.

Wisatawan bisa belajar langsung, berinteraksi dengan warga, menikmati pangan lokal, mengenal kerajinan, mengikuti kegiatan budaya, hingga membeli produk yang punya nilai kekayaan intelektual. Pengalaman semacam ini dinilai lebih meninggalkan kesan dibanding kunjungan singkat.

Gastronomi dan kerajinan disebut Harry sebagai ruang yang mempertemukan alam, budaya, kreativitas, ekonomi, dan pariwisata. Bahan alam dan pengetahuan tradisional dapat dikembangkan menjadi produk, merek, desain, hingga pengalaman wisata yang membuka pasar lebih luas.

Kapasitas Ekologis Jadi Rem, Bukan Penghambat

Pengembangan pariwisata tetap perlu memperhatikan kapasitas ekologis, budaya, masyarakat, pengunjung, dan integritas warisan budaya. Harry menekankan prinsip pertumbuhan nilai, bukan sekadar pertumbuhan jumlah kunjungan.

Bagi wisatawan yang merencanakan perjalanan, prinsip ini relevan. Memilih destinasi berbasis komunitas, membeli produk kerajinan lokal, dan menghormati tradisi setempat menjadi cara ikut menjaga apa yang dinikmati.

Paradigma Menuju Indonesia 2045

Untuk Indonesia menuju 2045, Harry menawarkan paradigma Nature–Culture–Creative Economy–Tourism Value Cycle. Tujuannya agar alam tetap sehat, budaya tetap hidup, kreativitas berkembang, kekayaan intelektual terlindungi, ekonomi kreatif menghasilkan nilai tambah, dan masyarakat memperoleh manfaat.

Lewat pendekatan tersebut, nilai ekonomi yang dihasilkan dapat diinvestasikan kembali untuk memperkuat masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan alam dan budaya.

Harry menegaskan, pembangunan ke depan tidak semata-mata mengeksploitasi alam dan budaya untuk pariwisata. Kreativitas, ekonomi, kekayaan intelektual, dan pariwisata justru dipakai untuk memastikan alam dan budaya terus hidup dan diwariskan ke generasi berikutnya.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top