Dua Fotografer Bali Raih FOTO Bali Award Perdana, Bawa Pulang Rp22 Juta Tanpa Kewajiban Proyek Baru

Penulis: Bayu Nugroho  •  Senin, 28 September 2026 | 08:47:01 WIB
Fotografer Rudi Waisnawa dan Irene Barlian menerima FOTO Bali Award perdana di Tabanan.

TABANAN — Penghargaan yang dipersembahkan Nuanu Social Fund (NSF) bersama FOTO Bali Festival ini memberi ruang berbeda bagi fotografer. Dana bisa dipakai untuk melanjutkan praktik yang sudah bertahun-tahun dijalankan, bukan untuk membiayai proyek baru yang harus dipertanggungjawabkan.

Rudi Waisnawa bukan nama baru di dunia fotografi dokumenter Bali. Sejak 2014, ia mendokumentasikan kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental melalui proyek Hope and Freedom. Praktik itu berjalan lebih dari satu dekade dan kemudian berkembang menjadi buku fotografi yang dikerjakan bersama Nicky Hogan.

Irene Barlian memulai jalur berbeda. Proyek Land of the Sea yang ia rintis pada 2020 merekam kehidupan masyarakat Indonesia yang berhadapan langsung dengan dampak krisis iklim. Proyek tersebut masih berlangsung hingga kini dan mendapat dukungan dari National Geographic Society.

Mengapa FOTO Bali Award Tidak Mengikat Penerima dengan Proyek Baru

Skema pendanaan ini sengaja dirancang berbeda dari kebanyakan hibah seni. Penerima tidak diwajibkan mengajukan proposal lanjutan, tidak harus menghasilkan proyek baru, dan tidak dituntut memenuhi luaran tertentu.

Kelsang Dolma, Founding Director FOTO Bali Award dan FOTO Bali Festival, menjelaskan alasan di balik pendekatan tersebut.

"Tahun ini, festival kami mengangkat pertanyaan tentang apa yang tersisa setelah sebuah gambar tercipta. Bagi fotografer seperti Rudi dan Irene, yang tersisa adalah kerja panjang selama bertahun-tahun yang kerap luput dari perhatian dan jarang mendapatkan dukungan finansial yang sepadan. Melalui penghargaan ini, kami ingin memberikan apresiasi terhadap dedikasi tersebut sebagaimana adanya, tanpa mengharuskan seniman menjadi pengelola proyek untuk bisa mendapatkan dukungan," ujar Kelsang Dolma.

Dua penerima perdana ini dipilih dari hampir 100 pendaftaran. Dewan juri terdiri dari Ng Swan Ti selaku Managing Director PannaFoto Institute, Dr. Wiyu Wahono sebagai kolektor seni kontemporer Indonesia, serta I Made Bayu Pramana, fotografer dan akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.

Kesehatan Mental dan Krisis Iklim: Dua Isu yang Diangkat

Praktik Rudi dan Irene dinilai mewakili kepedulian terhadap persoalan manusia dan lingkungan. Dua bidang itu menjadi fokus dukungan Nuanu Social Fund.

"Nuanu Social Fund dibangun dengan berlandaskan kepedulian terhadap manusia dan alam. Kedua karya ini berada tepat di persimpangan tersebut. Yang satu mengangkat bagaimana kita memperlakukan kelompok rentan di tengah masyarakat, sementara yang lainnya memperlihatkan perubahan yang sedang terjadi pada daratan dan lautan tempat kita semua bergantung," ujar Ida Ayu Astari Prada, Head of Nuanu Social Fund.

Ia menambahkan bahwa fotografer yang konsisten mendalami isu-isu tersebut selama bertahun-tahun sesungguhnya juga menjalankan kerja sosial.

"Para fotografer yang secara konsisten mendalami isu-isu ini selama bertahun-tahun sesungguhnya juga sedang melakukan kerja sosial. Mendukung mereka merupakan bagian penting dari alasan Nuanu Social Fund hadir, dan komitmen ini akan terus kami jaga," lanjutnya.

Land of the Sea dan Jejak di Panggung Internasional

Karya Irene melalui Land of the Sea tidak hanya berbicara soal data iklim. Proyek itu menghadirkan pengalaman masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak dan bagaimana perubahan lingkungan memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

Land of the Sea sebelumnya masuk dalam daftar pendek Leica Oskar Barnack Award 2022 dan telah dipamerkan di Objectifs, Singapura.

"Land of the Sea adalah kisah tentang dampak perubahan iklim di Indonesia, yang diceritakan melalui sudut pandang masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak. Rasanya masih sulit dipercaya, sekaligus menjadi sebuah kehormatan besar bagi saya untuk menerima penghargaan ini," ujar Irene Barlian.

"Penghargaan ini semakin mendorong saya untuk terus berkarya dan menceritakan kisah-kisah yang paling berarti bagi saya," lanjutnya.

Harapan Rudi untuk Ruang yang Lebih Luas

Bagi Rudi, penghargaan ini bukan sekadar soal dana. Ia berharap praktik fotografinya membuka ruang lebih luas bagi masyarakat untuk memahami kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental.

"Saya berharap penghargaan ini dapat membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk melihat dan memahami kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental, yang kisah-kisahnya layak didengar dan dihargai dengan penuh martabat," ujar Rudi Waisnawa.

FOTO Bali Award merupakan festival fotografi internasional yang diluncurkan oleh Nuanu Creative City. Penghargaan ini terdiri atas dua kategori dengan bobot penilaian yang setara.

Reporter: Bayu Nugroho
Sumber: lintasbali.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top