BALI — Timnas Indonesia menurunkan sebelas pemain keturunan sejak menit pertama saat melawan Singapura di Grup A Divisi 1 FIFA ASEAN Cup 2026. Laga di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat (25/9/2026) malam WIB, mencatat sejarah baru karena untuk pertama kalinya tidak ada pemain pribumi yang masuk starting XI pilihan John Herdman.
Maarten Paes berdiri di bawah mistar. Di depannya berjajar Kevin Diks, Elkan Baggott, dan Justin Hubner. Lini tengah diisi Luke Vickery, Joey Pelupessy, dan Calvin Verdonk, sementara Dean James, Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, serta Mitchell Baker melengkapi susunan pemain.
Nadeo Argawinata, Rizky Ridho, Rizky Eka Pratama, Rayhan Hannan, dan Egy Maulana Vikri harus menunggu di bangku cadangan. Tidak ada satu pun nama pemain pribumi yang mengisi posisi starter dalam laga pembuka Grup A tersebut.
Jejak Pencarian Pemain Keturunan Sejak 2023
Sejak Erick Thohir menjabat Ketua Umum PSSI pada Februari 2023, federasi gencar menjaring pemain keturunan untuk memperkuat skuad Garuda. Proses naturalisasi dan pendekatan kepada pemain berdarah Indonesia di Eropa menjadi salah satu program utama kepengurusan.
Kebijakan itu perlahan mengubah komposisi tim. Berdasarkan penelusuran Liputan6.com di Transfermarkt, sebelum laga melawan Singapura, setidaknya selalu ada satu pemain pribumi yang masuk starting XI di setiap pertandingan.
Dua Laga dengan Starter Pribumi Paling Sedikit
Catatan paling tipis terjadi di dua pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Masing-masing hanya menyisakan satu pemain pribumi di sebelas pertama.
- Melawan Bahrain, 10 Oktober 2024: hanya Malik Risaldi yang menjadi starter.
- Melawan Australia, 20 Maret 2025: hanya Marselino Ferdinan yang merumput sejak menit awal.
Dua laga itu menjadi titik terdekat sebelum rekor nol pemain pribumi akhirnya tercipta di laga kontra Singapura. Perubahan komposisi ini menunjukkan arah kebijakan tim yang semakin bergantung pada pemain hasil diaspora.
Pertaruhan Herdman di Turnamen Regional
Keputusan John Herdman menurunkan seluruh pemain keturunan sejak awal bukan tanpa risiko. Komposisi ini menguji sejauh mana chemistry antar pemain yang sebagian besar berkarier di klub-klub Eropa bisa terbangun dalam waktu singkat.
Di sisi lain, laga melawan Singapura menjadi tolok ukur apakah pendekatan berbasis pemain diaspora mampu membawa hasil di turnamen regional. Publik menanti apakah formula ini berlanjut di pertandingan-pertandingan berikutnya atau Herdman kembali memberi ruang bagi pemain pribumi.
Keputusan tersebut juga membuka diskusi lebih luas soal masa depan pembinaan pemain lokal. Sejumlah pengamat menilai dominasi pemain keturunan bisa menjadi pedang bermata dua bagi perkembangan sepak bola nasional dalam jangka panjang.