DENPASAR — Rektor Unhi Denpasar Dr. Cokorda Gde Bayu Putra menyebut Utsawa Bali Sani bukan sekadar festival seni. Festival ini digagas sebagai ruang perjumpaan antara kegairahan ilmiah, pengembangan sains dan teknologi, dengan kegairahan seni.
UBS pertama kali dibuka pada 2010 di kampus Unhi. Festival ini digagas oleh Rektor Unhi saat itu, Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S, yang kini menjadi kurator Utsawa Bali Sani.
Pendanaan Unhi hanya ditopang dari SPP mahasiswa. Meski begitu, kampus ini tetap menggelar festival seni yang menyedot biaya tidak sedikit.
Ada beberapa gagasan mendasar di balik keputusan itu. Pertama, Unhi menawarkan lompatan paradigma berkesenian: seni sebagai ekspresi pemuliaan dan pengabdian melalui kerja ikhlas yang disebut ngayah.
Semangat ngayah berpotensi hilang ketika aktivitas seni mulai diatur hukum-hukum pasar. Yang muncul kemudian adalah semangat komersil, bukan semangat ngayah. Padahal spirit berkesenian di Bali adalah ruang pencarian pengalaman estetik yang basisnya rasa.
Rasa tidak hanya menjadi pondasi berkesenian. Rasa menjadi pondasi dasar dari religiusitas manusia Bali.
Kedua, UBS diposisikan sebagai ruang mempertemukan kegairahan ilmiah melalui pengembangan sains dan teknologi dengan kegairahan seni. Seni adalah ruang di mana kemajuan sains dan teknologi bisa selaras dengan rasa.
Sebagai lembaga pendidikan Hindu yang lahir di tempat pertemuan air (Campuhan), Unhi membuka ruang perjumpaan antara pengetahuan ilmiah dan seni. Visi Unhi dalam statuta adalah menjadi universitas berkelas dunia dan pusat pengkajian ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berlandaskan nilai dharma.
Tema yang diusung tahun ini: Prabh? N?ti Widy? Sani Prawartana, semangat bersama mengembangkan ilmu pengetahuan dan seni.
Kesenian dalam ajaran Hindu berakar pada nilai Satyam, Sivam, Sundaram. Satyam (Kebenaran) berarti rasio bergerak mencari kebenaran hakiki melalui logika dan pengetahuan.
Sivam (Kesucian/Kebaikan) berarti budi pekerti dan rasa melahirkan kesucian niat serta keluhuran budi. Ketika Kebenaran dan Kesucian menyatu, terwujudlah Keindahan (Sundaram) yang sejati melalui media seni.
Seni bukan sekadar hiburan. Seni adalah ruang perjumpaan di mana logika akademis dan kedalaman intuisi bertemu. Rasio memberi arah, struktur, dan kedisiplinan; rasa memberi nyawa, keindahan, dan makna.
Penyatuan rasio dan rasa inilah yang melahirkan kesenian Bali, mengalir dari masa lalu hingga masa kini. Warisan sastra berbentuk kakawin, kidung, dan geguritan menjadi bentuk estetik penuh perhitungan sebagai manifestasi rasio.
Demikian pula dalam bentuk gambelan dan tabuh. Di balik keindahan dan rasa yang diungkapkan oleh tabuh, ada perhitungan berbeda, ketat, dan kuat yang mengalir dari ceruk-ceruk batin para seniman.
Pertemuan rasio dan rasa inilah yang menjadi dasar estetika Bali untuk mencapai ngajap sandining lango, melebur bersama keindahan.
Bali memiliki warisan budaya amat kaya, tempat tradisi, keilmuan, dan kesenian berpadu harmoni dalam bingkai filosofi kehidupan. Melalui Utsawa Bali Sani, kampus diposisikan sebagai benteng kelestarian budaya sekaligus laboratorium inovasi seni.
Rektor berharap festival ini menjadi wadah dialog kreatif bagi mahasiswa, dosen, dan seniman untuk mengasah gagasan (rasio) dan mengolah kepekaan batin (rasa).
"Mari kita jadikan seni sebagai media untuk memperhalus budi pekerti, mempererat kebersamaan, dan menyebarkan pesan harmoni bagi masyarakat luas," ujar Rektor Unhi Denpasar Dr. Cokorda Gde Bayu Putra.