DENPASAR — Kompetisi seni dan budaya keagamaan Hindu itu berlangsung 11–16 September 2026 dengan tema "Dharmagita Atmanam Dharma", dimaknai sebagai "Menuntun Jiwa Menuju Kesucian". Sebanyak 331 peserta bertarung dalam 37 kategori yang terbagi ke 11 bidang, mulai kelompok anak-anak, remaja, hingga dewasa.
Di bawah Badung, Karangasem mengoleksi lima gelar juara pertama, Gianyar empat gelar, dan Denpasar tiga gelar. Bangli dan Tabanan masing-masing meraih dua gelar juara pertama.
Dominasi Badung terlihat di sejumlah cabang. Pada Membaca Palawakya, Badung menyapu bersih empat gelar juara pertama sekaligus: remaja putri, remaja putra, dewasa putra, dan dewasa putri.
Di Dharmawacana Bahasa Bali, Badung memenangkan lima gelar — anak-anak putri, anak-anak putra, remaja putri, dewasa putri, dan dewasa putra. Kategori remaja putra direbut Denpasar.
Membaca Kakawin menempatkan Badung sebagai juara di remaja putri dan dewasa putra, sementara Gianyar menang di remaja putra dan Bangli di dewasa putri. Untuk Membaca Gaguritan, Badung meraih dua gelar sekaligus pada kategori anak-anak putri dan anak-anak putra.
Pada Membaca Sloka, Badung menjuarai anak-anak putra, dewasa putri, dan dewasa putra. Karangasem meraih juara anak-anak putri, Bangli pada remaja putri, dan Denpasar pada remaja putra. Adapun di Dharmawacana Bahasa Inggris, Karangasem meraih tiga gelar (remaja putri, remaja putra, dewasa putri) dan Badung juara dewasa putra.
Keterlibatan peserta dari berbagai kelompok usia menjadi poin yang disoroti Gubernur Bali Wayan Koster saat menutup kegiatan. Menurutnya, kehadiran peserta anak-anak hingga dewasa membuktikan proses regenerasi budaya Bali tetap terjaga.
"Jadi dari segi tingkat usia, anak-anak, remaja, dewasa, tiang melihat itu tidak ada yang putus dalam generasinya ini. Jadi kalau peminatnya cuma dewasa doang, berarti kita ada yang putus dan itu ancaman. Ini ada yang remaja, dan yang di hulunya lagi ada anak-anak," kata Koster.
Ia menilai keberadaan peserta dari berbagai kelompok usia sangat krusial karena keberlanjutan budaya ditentukan oleh generasi yang mempelajari dan menjalankannya. "Budaya itu syarat mutlak harus ada pelakunya. Siapa pelaku utamanya? Kita," tegasnya.
Hal menarik lain dalam UDG Bali XXXIII adalah penggunaan tiga bahasa dalam pelaksanaan lomba: Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Peserta tidak hanya dituntut memahami kearifan lokal, tetapi juga mampu mengomunikasikannya dalam lingkup lebih luas.
"Jadi tiga bahasa Bali, Indonesia, Inggris. Ah, keren ini. Jadi lengkap, lokal, nasional, global," kata Koster. Ia menyebut Bahasa Bali sebagai akar budaya, sedangkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menjadi sarana interaksi di tingkat nasional dan global.
Di tengah modernisasi dan teknologi digital, Koster optimistis budaya Bali tidak akan tergerus selama masyarakatnya aktif menjadi pelaku budaya. "Jadi karena itu, enggak perlu kita khawatir bahwa perkembangan dunia modernisasi global, dipercepat dengan teknologi digital. Itu tidak akan pernah mematikan budaya kita di Bali," ujarnya.
Menurutnya, fenomena global justru dapat berjalan berdampingan secara harmonis dengan kearifan lokal. "Ketika berkembang fenomena global, apa dampaknya terhadap kearifan lokal kita, budaya kita di Bali? Ternyata tidak tergerus. Tetap hidup," tutur Koster.
Pada UDG Bali XXXIII 2026, hadiah kategori tunggal sebesar Rp 5 juta untuk juara I, Rp 4 juta juara II, dan Rp 3 juta juara III. Kategori grup memperoleh Rp 15 juta (juara I), Rp 14 juta (juara II), dan Rp 13 juta (juara III).
Peserta juara harapan belum menerima hadiah uang tunai. Koster mendorong evaluasi skema penghargaan agar kompetisi mendatang berlangsung lebih hidup.
"Jadi karena itu, tahun depan kita akan selenggarakan lebih hidup lagi. Saya akan panggil Kadisnya supaya hadiahnya naikin. Hadiah yang utama, duit! Duit. Duit!" tandasnya.