Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 3,19 persen pada Agustus 2026, yang turut mempengaruhi daya beli warga di Bali. Kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 111,97 pada Agustus 2026 ini didorong oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau yang naik signifikan. Pantauan di Pasar Badung, Denpasar, Kamis (3/9/2026) menunjukkan aktivitas jual beli masih berjalan normal di tengah tekanan harga tersebut.
DENPASAR — Aktivitas transaksi di Pasar Badung, Denpasar, Bali, Kamis (3/9/2026) masih berlangsung normal meskipun harga sejumlah kebutuhan pangan mencatat kenaikan. Kondisi ini sejalan dengan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat inflasi tahunan mencapai 3,19 persen per Agustus 2026. Angka tersebut merupakan agregat dari pemantauan harga di 150 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Berdasarkan data BPS, inflasi year-on-year terjadi seiring dengan kenaikan indeks harga konsumen dari level 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 111,97 pada Agustus 2026. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun, rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat mengalami eskalasi di atas tiga persen.
Kelompok pengeluaran yang menjadi pendorong utama adalah makanan, minuman dan tembakau, yang mencatat inflasi lebih tinggi dari rata-rata nasional, yaitu sebesar 3,86 persen. Tekanan harga pada kelompok ini hampir selalu menjadi perhatian utama karena porsinya yang besar dalam pengeluaran rumah tangga.
Di Pasar Badung, yang menjadi salah satu barometer harga pangan di Pulau Dewata, kenaikan harga komoditas terlihat pada beberapa kebutuhan pokok. Meskipun para pedagang tetap melayani konsumen seperti biasa, gelombang kenaikan harga ini berpotensi menekan volume belanja masyarakat.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Denpasar, tetapi juga dirasakan di kabupaten/kota lain di Bali. Namun, BPS belum merilis angka inflasi spesifik per daerah dalam rilis tersebut, sehingga gambaran umum provinsi masih mengacu pada data nasional yang dipantau dari berbagai wilayah.
Inflasi y-on-y sebesar 3,19 persen ini menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk terus mengawal stabilitas pasokan pangan. Kenaikan indeks harga yang konsisten pada sektor makanan dan minuman kerap kali menjadi pemicu utama gejolak ekonomi di tingkat akar rumput.
Untuk masyarakat Bali yang mengandalkan belanja harian di pasar tradisional, fluktuasi harga seperti ini menuntut ketepatan dalam mengatur pengeluaran rumah tangga.
Para pengamat ekonomi lokal bakal mencermati langkah pemerintah dalam mengendalikan harga komoditas pangan pada bulan-bulan mendatang. Sebab, pola inflasi yang dipicu kelompok makanan biasanya berlanjut jika distribusi barang terganggu atau terjadi gagal panen di daerah pemasok.
Dengan inflasi tahunan yang masih berada di angka wajar namun terus merangkak, penguatan operasi pasar dan stabilisasi harga bahan pokok menjadi langkah yang dinanti para pedagang dan konsumen di Bali.