BALI — Nothing Ear (3a) resmi mendarat di Indonesia dengan banderol Rp1.699.000. Penerus Ear (a) ini datang dengan segudang peningkatan, mulai dari driver lebih besar, ANC yang lebih agresif, hingga penyimpanan internal 32 MB. Saya memakainya selama beberapa hari untuk mendengarkan musik, menelepon, dan menemani kerja—berikut ulasan lengkapnya.
Nothing tidak pernah main-main dengan identitas visual. Ear (3a) tetap mengusung elemen transparan khas yang membuatnya langsung dikenali dari kejauhan. Tersedia empat pilihan warna—Black, White, Pink, dan Yellow—dan unit kuning yang saya terima terlihat mencolok tanpa terkesan murahan.
Baik earbuds maupun charging case punya sertifikasi IP54, jadi cukup aman dari debu dan percikan air. Tangkai earbuds dilapisi material transparan yang memperlihatkan sebagian komponen internal, dan bobotnya ringan. Untuk kontrol, mekanisme pinch pada tangkai terasa responsif dan tidak butuh tekanan keras.
Charging case-nya kini lebih membulat dan tipis, nyaman disimpan di saku. Detail kecil yang saya hargai adalah penanda titik putih (kiri) dan merah (kanan) baik di earbuds maupun di dalam case, sehingga tidak perlu menebak posisi saat memasang. Tiga lampu LED di dalam case juga informatif—menyala berurutan saat charging, berkedip saat pairing, dan pixel bawah berubah merah saat baterai lemah.
Nothing meningkatkan driver dari 11 mm menjadi 12 mm dengan material PMI dan TPU. Klaim peningkatan bass hingga 5 dB langsung terasa sejak lagu pertama diputar. Karakter suaranya hangat dan punchy, sangat cocok untuk musik elektronik, hip-hop, atau pop yang mengandalkan frekuensi rendah.
Namun, bagi pendengar yang menginginkan suara netral, bass bawaan ini bisa terasa terlalu tebal. Untungnya, aplikasi Nothing X menyediakan equalizer 8-band yang bisa digunakan untuk menjinakkan bass atau menyesuaikan frekuensi lain. Soal codec, Ear (3a) mendukung SBC, AAC, dan LDAC, jadi pengguna Android kompatibel bisa menikmati audio resolusi lebih tinggi.
Active Noise Cancellation (ANC) di angka 45 dB bekerja efektif meredam suara konstan seperti dengungan AC, kipas, atau suara mesin kendaraan. Di lingkungan yang benar-benar ramai seperti jalan raya atau kafe penuh, masih ada suara yang tembus—wajar untuk kelas harga ini dan belum setara TWS flagship yang harganya dua kali lipat lebih mahal.
Mode Transparency tersedia untuk tetap waspada dengan sekitar. Adapun fitur Spatial Audio yang disematkan, hasilnya kurang konsisten. Alih-alih memperkaya pengalaman, efeknya justru terasa aneh di sebagian lagu, jadi saya lebih sering mematikan fitur ini dan memakai mode audio biasa.
Justru fitur paling menarik dari Ear (3a) bukan soal kualitas suara. Penyimpanan internal 32 MB memungkinkan earbuds merekam audio secara langsung, dengan dua fungsi utama: Audio Snapshot yang menyimpan cuplikan audio hingga 60 detik, dan Call Recording yang merekam percakapan telepon hingga sekitar dua jam.
Rekaman bisa disinkronkan ke aplikasi Nothing X. Fitur ini jelas berguna untuk jurnalis, pelajar, atau siapa saja yang sering melakukan wawancara atau meeting via telepon. Ini pembeda yang tidak dimiliki kompetitor di rentang harga yang sama.
Nothing Ear (3a) adalah pilihan menarik di kelas TWS Rp1,6 jutaan. Ia menawarkan karakter suara yang menyenangkan untuk genre musik modern, ANC yang mumpuni, dan fitur perekaman panggilan yang tidak dimiliki kompetitor langsung seperti Samsung Galaxy Buds FE atau Soundcore Liberty 4 NC.
Produk ini sangat cocok untuk kamu yang ingin tampil beda secara desain, suka musik dengan bass dominan, dan butuh fitur rekaman praktis. Sebaliknya, jika kamu menginginkan suara netral untuk mixing atau mendengarkan musik klasik, atau memprioritaskan kualitas panggilan di lingkungan bising, ada opsi lain yang lebih sesuai di harga yang sama.