TABANAN — Jatiluwih Festival VII 2026 mengusung tema “In Balance with Nature, Inspired by Tradition”. Ajang ini menjadi panggung bagi petani dan pelaku UMKM lokal untuk mempromosikan kuliner tradisional, produk kerajinan, hingga kesenian daerah.
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menyebut sistem irigasi Subak yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana menjadi keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki daerah lain. “Kalau sawah, hampir semua daerah punya. Tetapi sistem tata kelola air seperti Subak inilah yang menjadi keunggulan Bali dan diakui dunia,” ujarnya saat membuka festival.
Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Sistem Subak mengatur distribusi air secara adil dari hulu ke hilir, sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pertanian.
Kawasan DTW Jatiluwih tidak hanya masuk Warisan Budaya Dunia UNESCO sejak 2012. Dalam empat tahun terakhir, destinasi agrowisata ini mengoleksi tiga penghargaan global lainnya:
Manajer DTW Jatiluwih, John K. Purna, mengatakan masuknya festival ini ke KEN 2026 menjadi pengakuan atas konsistensi warga dalam melestarikan nilai-nilai luhur dan lingkungan.
John menekankan bahwa kesejahteraan petani harus menjadi tolok ukur utama pembangunan pariwisata di Jatiluwih. “Mereka adalah penjaga utama warisan budaya pertanian,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Tabanan berkomitmen menata fasilitas pendukung secara bijaksana. Pembangunan area parkir dan fasilitas lain dilakukan tanpa merusak panorama sawah terasering yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Bupati Sanjaya mengingatkan pentingnya menjaga arsitektur tradisional dan membatasi alih fungsi lahan. Hal itu demi mempertahankan identitas Tabanan sebagai lumbung pangan Bali.