DENPASAR — Enam puluh dua desa dan kelurahan di Kabupaten Badung kini menjadi lokasi percontohan program “Banjar Menari”. Lewat inisiatif ini, Pemkab Badung menggali potensi remaja dan anak-anak langsung dari lingkungan banjar, kemudian memolesnya secara profesional bersama para ahli di bidang seni.
“Salah satu strategi nyata kami dalam menggali, mengembangkan, dan melestarikan seni adalah melalui program ‘Banjar Menari’. Saat ini program tersebut sudah berjalan di 62 desa dan kelurahan di Kabupaten Badung,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Badung, I Gede Sukadana, di Denpasar, Kamis (18/6).
Pernyataan itu disampaikan Sukadana di sela-sela menyaksikan wimbakara (lomba) Taman Penasar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII di Taman Budaya Art Center, Denpasar. Ia datang langsung memberikan dukungan moral kepada tim Taman Penasar Duta Badung yang tengah bertanding.
Menurutnya, penguatan sektor kebudayaan merupakan roh utama dari visi-misi Bupati Badung dalam mewujudkan pariwisata berkualitas. Pariwisata yang dimaksud harus berpijak pada nilai luhur Sad Kerthi Loka Bali — bukan sekadar mengejar jumlah kunjungan.
Regenerasi seniman muda di Bali, khususnya di Badung, menghadapi tantangan besar. Banyak anak muda lebih tertarik pada sektor pariwisata yang menjanjikan pendapatan instan. Melalui ekosistem berbasis komunitas ini, potensi terpendam dari remaja dan anak-anak digali sejak dini.
“Melalui wadah ini, kita menggali potensi seniman muda dari tingkat paling bawah untuk kemudian diakomodir oleh para ahli di bidangnya. Ini adalah bentuk komitmen serius Bapak Bupati dalam menjaga keajegan seni tradisi di Badung,” pungkas Sukadana.
Program ini tidak berhenti pada pelatihan tari semata. Dinas Kebudayaan Badung merancangnya sebagai ekosistem pembibitan berjenjang. Anak-anak dan remaja yang terdeteksi berbakat akan mendapatkan pendampingan intensif, bukan sekadar ikut lomba lalu selesai.
Selain itu, pendekatan berbasis banjar memastikan partisipasi warga secara langsung. Setiap banjar menjadi laboratorium seni yang hidup, bukan sekadar tempat latihan musiman. Model ini diyakini mampu menciptakan seniman yang tidak hanya mahir menari, tetapi juga memahami filosofi di balik setiap gerakan.
Keberadaan seniman muda yang terdidik sejak awal diharapkan menjadi daya tarik wisata budaya yang autentik. Pariwisata Badung tidak lagi bergantung pada atraksi massal, melainkan pada pertunjukan seni yang lahir dari proses panjang pembibitan di banjar.
Dengan 62 desa dan kelurahan yang sudah berpartisipasi, Pemkab Badung menargetkan program ini menjangkau seluruh banjar di wilayahnya dalam beberapa tahun ke depan. Langkah ini sekaligus menjawab kekhawatiran banyak pihak tentang punahnya seniman tradisi di tengah gempuran budaya global.