BALI — Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah, di sepanjang jalan desa, hingga pusat kota, lengkungan bambu yang anggun dan janur yang tertata indah menjulang tinggi. Namun di tengah kemeriahan itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah penjor kesadaran sudah ditegakkan di dalam diri?
Pertanyaan ini menjadi krusial ketika Bali menghadapi gelombang perubahan besar. Pariwisata berkembang pesat, hotel dan vila tumbuh tanpa henti, sementara ritual keagamaan berlangsung semakin megah. Di balik semua itu, tersimpan kegelisahan apakah Bali sedang bergerak menuju kemajuan berkelanjutan atau justru kehilangan ruhnya.
Bung Karno sejak awal kemerdekaan telah mengingatkan tentang bahaya neokolonialisme dan imperialisme. Bentuknya bukan lagi penjajahan langsung, melainkan penguasaan ekonomi, budaya, dan cara berpikir masyarakat. Di Bali, gejala itu mulai terlihat dalam berbagai bentuk.
Harga tanah melambung hingga sulit dijangkau generasi muda. Sawah produktif berubah menjadi kawasan wisata. Pantai dan ruang publik semakin banyak berada dalam kontrol kepentingan bisnis. Desa-desa tradisional perlahan berubah menjadi kawasan komersial.
"Tidak semua investasi adalah masalah. Tidak semua pembangunan harus ditolak," tulis analis dalam sebuah catatan. Namun pertanyaan yang perlu diajukan adalah: siapa yang mengendalikan pembangunan itu? Siapa yang memperoleh manfaat terbesar? Dan siapa yang menanggung dampaknya?
Tidak dapat disangkal bahwa pariwisata telah memberikan manfaat besar bagi Bali. Jutaan wisatawan datang setiap tahun, ribuan lapangan kerja tercipta, infrastruktur berkembang, dan pendapatan daerah meningkat. Namun di balik gemerlap itu terdapat sisi lain yang sering tidak terlihat.
Bali hari ini menghadapi persoalan kompleks: kemacetan, banjir, krisis air bersih, alih fungsi lahan, kenaikan harga tanah, tekanan ekonomi keluarga, hingga perubahan pola hidup masyarakat. Ironisnya, di tengah citra Bali sebagai pulau surga yang dipromosikan ke seluruh dunia, sebagian masyarakat lokal justru merasakan tekanan hidup yang semakin berat.
Generasi muda menghadapi tantangan baru. Mereka hidup di tengah budaya konsumtif global, persaingan ekonomi ketat, dan ekspektasi sosial yang semakin tinggi. Pada saat yang sama, nilai-nilai tradisional yang selama ini menjadi penyangga kehidupan perlahan mengalami erosi.
Dalam perspektif Pancamaya Kosha, pembangunan Bali tampaknya sangat berhasil memenuhi kebutuhan Annamaya Kosha (lapisan fisik) dan sebagian Manomaya Kosha (lapisan mental-emosional). Namun belum tentu menyentuh Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan) dan Anandamaya Kosha (kebahagiaan sejati). Akibatnya, kemajuan lahiriah tidak selalu diikuti kemajuan batiniah.
Galungan hari ini tidak hanya berbicara tentang kemenangan melawan kekuatan negatif dalam mitologi. Ia juga berbicara tentang kemampuan mengenali bentuk-bentuk Adharma yang hadir dalam kehidupan modern. Ketika masyarakat lokal hanya menjadi jongos dalam sistem ekonomi yang dibangun di atas tanah leluhurnya sendiri, maka muncul risiko yang pernah dialami banyak bangsa di dunia: menjadi tamu di rumah sendiri.