DENPASAR — Lonjakan kunjungan wisatawan saat musim libur sekolah menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Bali. Di tengah tren peningkatan jumlah wisatawan yang terus mencetak angka tinggi pascapandemi, pengelolaan kepadatan destinasi, keamanan wisatawan, hingga persoalan sampah menjadi fokus utama pembenahan sektor pariwisata.
Pemprov Bali tidak hanya menyoroti potensi peningkatan kunjungan, tetapi juga dampak yang menyertainya. Kepadatan di titik-titik wisata populer seperti Kuta, Seminyak, dan Ubud menjadi perhatian utama. Selain itu, keamanan wisatawan, terutama dari aksi kriminalitas dan kecelakaan lalu lintas, juga masuk dalam daftar prioritas penanganan.
Persoalan sampah, khususnya di kawasan pesisir dan tempat wisata alam, menjadi tantangan klasik yang kembali mengemuka. Pemprov Bali mendorong pengelola destinasi dan pelaku usaha pariwisata untuk memperketat sistem pengelolaan limbah. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata bersih dan nyaman.
Belum ada rincian teknis mengenai kebijakan pembatasan kunjungan atau sistem reservasi yang akan diterapkan. Namun, Pemprov Bali memastikan akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota serta pihak terkait untuk menyusun strategi pengendalian yang efektif selama musim libur sekolah.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya antisipasi lebih bersifat reaktif, kali ini Pemprov Bali cenderung mengambil langkah proaktif. Pengalaman menangani lonjakan wisatawan saat libur Natal dan Tahun Baru menjadi bahan evaluasi. Pendekatan berbasis data kunjungan harian dan kapasitas daya tampung destinasi mulai dipertimbangkan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Belum ada pernyataan resmi dari Gubernur Bali Wayan Koster terkait kebijakan spesifik yang akan diterapkan. Namun, sinyal penguatan pengawasan di lapangan sudah mulai terlihat. Beberapa komunitas sadar wisata di desa adat juga dilibatkan untuk membantu pengaturan arus wisatawan di destinasi masing-masing.