BALI — Pergerakan indeks komposit pada Selasa (2/6/2026) ini langsung berubah drastis dalam 30 menit pertama perdagangan. Data Bloomberg dan RTI menunjukkan tekanan jual mendominasi sejak sesi I dimulai. Sebanyak 380 saham tercatat melemah, sementara hanya 198 saham yang masih berada di zona hijau, dan 381 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi awal baru mencapai Rp2,1 triliun dengan volume 3,09 miliar saham.
Tekanan tidak hanya terjadi pada IHSG. Seluruh indeks acuan utama juga kompak memerah. Indeks LQ45 turun 0,28 persen ke 617, IDX30 melemah 0,21 persen ke 348, dan Jakarta Islamic Index (JII) terkoreksi 0,26 persen ke 376. Indeks MNC36 juga ikut turun 0,17 persen ke 269.
Dari sisi sektoral, hanya empat sektor yang mampu bertahan di zona hijau: energi, properti, industri, dan kesehatan. Sebaliknya, enam sektor lainnya tertekan. Sektor konsumer siklikal, infrastruktur, bahan baku, teknologi, konsumer non-siklikal, keuangan, dan transportasi semuanya tercatat melemah. Sektor keuangan yang biasanya menjadi penopang IHSG justru ikut terkoreksi, menjadi salah satu pemberat utama indeks.
Di tengah dominasi aksi jual, beberapa saham justru mencatatkan kenaikan signifikan dan masuk jajaran top gainers. PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO) memimpin dengan kenaikan tajam. Disusul oleh PT Arthavest Tbk (ARTA) dan PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE) yang juga bergerak positif. Kenaikan ketiga saham ini terjadi di tengah volume transaksi yang relatif terbatas, mengindikasikan aksi spekulatif jangka pendek.
Pergerakan IHSG pada sesi berikutnya akan sangat bergantung pada aksi investor asing dan pergerakan indeks regional. Data net sell asing pada perdagangan sebelumnya serta sentimen dari bursa Asia akan menjadi penentu arah indeks selanjutnya. Investor disarankan mencermati level support 6.140—jika ditembus, potensi koreksi lebih dalam terbuka. Sebaliknya, jika indeks mampu bangkit di atas 6.200, tekanan jual bisa mereda.